Telah Usai



Ramadhan telah usai, masihkah kau genggam Al Quranmu?

Sebelumnya, biasanya kau bolak-balik lembaran mukjizat itu. Kau lantunkan ayat-ayat yang menunjukkan tanda-tanda kuasa-Nya. Sesekali kau menyeka ujung mata yang berair karena kalbumu tersentuh. Di kereta, bangku kuliah, ruang kerja, atau antrian kasir supermarket, bisik tilawah merdu terdengar.  Kini kau biarkan kitab itu berdebu kembali di rak pajangan. Aplikasi mushaf digital itu juga hanya menjadi penggenap memori telepon genggamu.

Ramadhan telah berakhir, masihkah kau hidupkan malam dengan shalat?

Sebelumnya, kau rutinkan diri untuk medirikan rakaat-rakaat di musholla terdekat.  Kau rapatkan kaki ke kaki, pundak ke pundak, sejenak kau sela kefanaan dunia untuk tegakkan tiang agama. Kau habiskan malam untuk bersujud pada-Nya. Lalu kau tutup dengan yang ganjil sebelum menyentuh hidangan sahur. Kini, tak lagi kau gelar sajadah yang pernah menjadi saksi bisu degup kepasrahan seorang hamba pada Tuhannya.

Ramadhan sampai di sini, masihkah kau ramaikan masjid-masjid?

Sebelumnya, di sela-sela kesibukanmu, kau datangi rumah-rumah Allah lebih dari sekadar memenuhi kewajiban lima waktu. Kau basuh wajahmu dengan wudhu dan nikamti sejuk-tentram suasana itikaf. Bibirmu bersambut dengan dengung syahdu dzikir. Sesekali kau selonjorkan kaki setiap tasbihmu berhenti berputar. Kini, masjid-masjid yang tak semenarik pusat perbelanjaan itu hanya menjadi tempat pemberhentian sambil lalu.

Ramadhan telah berlalu, masih kah ringan tanganmu untuk bersedekah?

Sebelumnya, begitu mudahnya kau ulurkan tangan untuk membantu sesama. Kau sisihkan sedikit uang untuk berbagi menu berbuka puasa dengan mereka yang membutuhkan. Kadang kau relakan beberapa lembar di dompetmu kepada penjaga masjid, penyapu jalan, atau penjual tasbih keliling. kau pastikan dirimu untuk selalu menaruh tangan di atas tangan yang lain. Kau syukuri rizikimu dengan berbagi, lebih dari sekedar menjamin kesucian harta lewat zakat. Kini, jemarimu tersarung pada kantung celana, menggenggam erat apa yang kau anggap hasil jerih payah.

Masihkah kau….

Ahh, tunggu dulu, barangkali aku ini terlalu naïf. Jangan-jangan saat Ramadhan kau hanya berlapar-lapar tanpa memperbanyak amalan yang kusebut tadi. Begitu saja Ramadhan terlewat tanpa ada upaya perbaikan diri. Entah ke mana larinya “la’allakum tattakun” yang semestinya menjadi ujung dari puasa itu.

Kering kerongkongan kadang membuatmu diam, tapi tidak untuk gosip terbaru minggu itu. Belum lagi soal umpat caci yang selalu membumbui bibir. Perut kosong kau jadikan dalih untuk bermalas malasan dan mengabaikan tanggung jawab. Di ujung hari, kau penuhi ajakan kawananmu untuk berbuka bersama tapi kau lalaikan shalat maghrib dan isya. Adzan yang sebenarnya panggilan untuk ke masjid justru hanya menjadi beker panggilan makan. Kau puaskan lidahmu hingga perut tak mampu lagi membendung. Lalu apa artinya menyumbat nafsu di antara benang putih dan benang hitam itu?

Kiranya Ramadhan tak ubahnya festival tahunan, saat di mana penjaja makanan memenuhi jalan. Papan iklan diskon menjamur di mana-mana. Orang-orang berlomba-lomba memenuhi restoran ketimbang surau. Pagelaran lawak menjadi pengantar tontonan awal hari. Lalu kemeriahan ini ditutup dengan pembakaran kembang api. Seentara esok harinya orang-orang berpesta hidangan dan menebar permohonan maaf semu. Ada benarnya bila kubilang Ramadhan telah kehilangan skralnya.


Jika memang demikian, masih pantaskah kau, ah bukan, kita. Masih pantaskah kita rayakan hari kemenangan ini?


Meguro, 1-sya-1436

Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!