SMT: Tabligh Akbar Tokyo
Selama Ramadan, KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia)
mengadakain rangkaian acara untuk memeriahkan bulan yang mulia ini. Termasuk di
antaranya ada Tabligh Akbar yang diselenggarakan setiap minggu, mengundang
ustad dari Indonesia untuk menyuguhkan siraman rahani pada masyarakat muslim di
Tokyo.
Dalam acara Tabligh Akbar tersebut pengelolaannya diserahkan
kepada beberapa komunitas pelajar muslim di Tokyo. Waseda mendapat bagian
minggu ketiga. Maka pada pengajian rutin Waseda, dibuatlah panitia kecil untuk
mengurus acara tersebut. Cas cis cus, jadi. Risiko jadi yang paling muda di
kelompok tersebut adalah harus sendiko
dawuh, nurut disuruh ikut serta dalam kepanitiaan. Yasudahlah…
Awalnya saya kira cuma disuruh angkat-angkat barang dekorasi
atau menyiapkan konsumsi buka puasa (siapa tau dapet jatah lebih). Ternyata
saya kebagian menjadi MC acara. gubrak. Jelas
in bukan tipikal kerja saya yang biasanya bermain (dalam arti yang sebenarnya)
di belakang panggung. Tapi yasudahlah, setidaknya pilihan ini lebih baik dari
pada disuruh qiroah yang bila saya lakukan berpotensi membuyarkan acara.
Acara dimulai selepas shalat ashar di aula Sekolah Repulik
Indonesia Tokyo (SRIT). Saya membuka acara dengan menyapa semua audien,
“Assalakum wr wb bapak, ibu, mas, mbak, dan adek-adek” Waktu itu saking
groginya berdiri di depan ratusan orang kaki saya sampai gemetaran. “Apa kabar
semuanya?” Saya coba basa-basi dan mengatur nafas agar lebih tenang.
Sebagai selingan acara beberapa video diputar. Salah satu
video yang saya perhatikan cukup menarik: the purpose of life. Anak muda punya
cara tersediri untuk berdakwah.
Sampai pada acara puncak, saya mempersilakan Ustad Tatan
untuk memberikan tausyiah. Bapak yang berasal dari Tasik namun lancar berbahasa
Jerman ini cukup tegas dalam menyampaikan nasihat, tidak banyak menggunakan
istilah rumit yang berbusa busa sehingga mudah diterima.
Beliau menyampaikan tentang pentingnya konsistensi Ibadah
dalam bulan Ramadan. Meskipun di bulan Ramadan kita memang dianjurkan
memperbanyak ibadah, tapi bukan berarti pasca Ramadan kualitas dan kuantitas
ibadah kita menurun drastis. Justru Ramadan menjadi momentum kita untuk semakin
meningkatkan kapasitas diri dalam beribadah kepada-Nya.
Beliau juga menekankan tentang pentingnya ikhlas dan
bersabar dalam beribadah. Akan banyak godaan yang datang selama berpuasa. “Saya
salut sama pemuda muslim di sini. Di musim panas seperti ini, semakin lama
siangnya, semakin pendek roknya.” Canda beliau diikuti tawa dari sebagian yang
mengerti, sebagian lagi manggut manggut.
Pembacaan kesimpulan dari moderator menutup tausyiah. Saya
pun mengarahkan audien untuk menata posisi persiapan ta’jil. Tak lama kemudian
muadzin mengumandangkan adzan, yang berarti saya bisa bisa menyantap es teler
dan gorengan khas Indonesia yang sudah tersaji. Alhamdulillah…
Setelah shalat maghrib kami semua antri menuju aula lantai
dasar. Satu persatu kami mengambil makanan. Senang rasanya bisa berbuka dengan
menu masakan Indonesia: Ayam kecap, telur bumbu bali, bakwan, dan sup kambing.
Dan yang paling penting: gratis.
Note:
- SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang
- Tulisan ini juga dibuat sebagai kumpulan cerita #Ramadhan Across the Globe FSI FEUI
Kalimat terakhir itu memang bagian paling penting.
ReplyDelete