Sepi



Salah bila ada prasangka bulan itu merana kesepian. Jauh ia rentangkan jarak pada bumi, namun sinarnya merengkuh menyelimuti. Lewat debur lembut ombak laut, ia titipkan belai kasih tanpa kalut, menyisakan buih-buih perasaan yang tak pernah surut.


Justru aku, wujud rapuh yang mengemis iba. Saat badan melebur bersama gemerlap keramaian malam, jiwaku meringkuk papa di sudut kegelapan: aku meratapi kesenderian.

Kuberteriak dalam diam. Kesalku tercekat pada gigi yang bergemeletuk tanpa ungkapan. Tak sekelabat mata menoleh peduli, tak terkecuali kunang-kunang taman yang enggan berbagi sinarnya.

Dalam sepi, yang kuinginkan hanya mencari sosok yang memahami diamku. Adalah Ia yang tahu harus berbuat apa tanpa perlu banyak “bagaimana”. Sebab tak perlu sayap bidadari untuk sekedar menyelimuti malamku yang dingin.

Mataku sendu berselimut rindu yang tumbuh bersama pilu. Andaikan saja kabarmu datang bak sepoi sejuk angin musim gugur. Tapi yang berhembus hanya rontokkan perasaan bersama jatuhnya daun momiji.

Masihkah perlu kugantung harapan pada ranting pohon yang kering kerontang itu?



Yoyogi-Uehara, 15/7/15


gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!