Kupilih Rindu
Di antara harap dan cemas, kupilih rindu, degup penantian
yang menjadi teman malam. Adakah dirimu menanti di ujung fajar? Atau telah kau
tinggalkan aku di bibir senja?
Nyatanya aku terbangun dengan dahaga, bersama cawan perasaan
yang kering kerontang. Adakah engkau bersedia, tuangkan embun kasih barang
setetes? Sejumput benih cinta menanti tumbuh kembali.
Padamu,
dan diriku, terselip hati untuk merasa. Tapi perasaan bukan
pilihan, melainkan kerelaan dan pembelajaran.
Sayat luka masih menganga. Kuperkenankan sejumput garam
untuk bantu menolak lupa, pada legam keping kenangan.
Bisa saja aku berlari, bertolak dari peluk hangat mentari. Lalu
mencari padang ilalang dan merebah, menyepakati takdir untuk bersembunyi.
Namun langkahku berbalik arah, bersejingkat pada jejak yang pernah
kita pijak. Kaki-kaki telanjang ini hanya berani menapak masa lalu.
Maka tetap kupilih rindu, seganjal gundah yang tak menuntut tatap bertemu.
Biarkan pahit kurasa, pada secangkir kopi yang diseduh tanpa pemesan.
Otsuka, 1/7/15
gambar dari sini

Comments
Post a Comment