SMT: Kuliah
Satu setengah bulan sudah saya di Tokyo. Belum afdhol rasanya kalau saya belum
menceritakan tentang tempat saya berkuliah: Waseda University. Bersyukur bisa
merasakan salah satu kampus ter-kece di
Jepang ini, saya akan sedikit berbagi.
Waseda University (早稲田大学) merupakan universitas swasta ke-dua
Jepang yang didirikan oleh Okuma Shigenobu tahun 1882. Nama Waseda sendiri sebenarnya
baru disematkan tahun 1902, diambil dari nama desa tempat kampus berdiri.
Waseda secara konsisten menduduki papan
atas universitas terbaik di Jepang. Berbagai lulusan menjadi orang yang berpengaruh
baik di pemerintahan (e.g. perdana menteri) maupun swasta (e.g. CEO Uniqlo). Dosen saya di UI juga ada yang lulusan Waseda
loh. Yup, Pak Fithra.
Kampus yang juga biasa dipanggil Sodai (早大) ini
terletak di Kota Shinijku, prefektur Tokyo. Kira-kira 50 menit (kereta+jalan) dari
tempat saya tinggal, Kotake-cho (小竹町). Di Waseda terdapat 13 fakultas
untuk program sarjana dan 23 sekolah pascasarjana. Walaupun sebagian besar masyarakat
mengenal Waseda ahlinya di bidang rumpun social, ekonomi, dan politik, Waseda
juga memiliki fakultas rumpun sains, teknik, kesehatan, dan pendidikan yang
tidak kalah bagusnya.
Kalau pergi ke kampus utama Waseda, kita bisa melihat patung
pak Okuma berdiri tegak menghadap gerbang utama. Di depan gerbang utama ada Okuma
Auditorium, gedung kebanggaan Waseda biasa digunakan untuk penyelenggaraan
wisuda atau acara-acara penting lainnya. Saya menghadiri upaya penerimaan
mahasiswa baru juga di gedung ini.
Sebagai mahasiswa pertukaran pelajar saya masuk School of
International Liberal Studies (国際教養学部) atau biasa disebut SILS. Di
fakultas yang satu ini sebagian besar mahasiswanya berasal dari luar Jepang. Semangat
multicultural dan multilingual di Waseda dibangun mulai
dari Fakultas ini. Meskipun berstatus mahasiswa SILS, saya tetap bisa mengambil
mata kuliah dari fakultas lain. Bahkan sebenarnya hanya satu mata kuliah yang
saya ambil di SILS, yakni Transportation Economics. Sedangkan sisanya saya
ambil di School of Political Science and
Economics ( 政治経済学部) dan School
of Social Science (社会科学部).
Program pertukaran pelajar menyaratkan pengambilan minimal 6
sks pelajaran bahasa Jepang. Jauh-jauh sudah ke Jepang masa’ enggak bisa bahasa
Jepang. Akhirnya saya ambil 5 sks comprehensive
Japanese dan 1 sks Survival Japanese,
2 kelas yang memang diperuntukkan bagi newbie semacam saya. Sebenarnya ada juga
kelas Japanese: interaction between you
and me untuk beginner. Tapi takut baper nanti kalau ambil yang itu, hehe…
Di minggu pertama kuliah, perencanaan selama sesemester ke
depan telah diberikan secara jelas dan rinci sehingga saya tahu apa yang akan
dibahas di kelas dan mempersiapkannya dengan baik. Bahan-bahan pembelajaran
juga tersedia di sistem perkuliahan online waseda, sehingga memudahkan saya
untuk belajar. 1 sks itu berarti 90
menit di kelas, 60 menit belajar mandiri, dan 30 menit tugas. Jika semua ditotalkan, satu sks membutuhkan
waktu 180 menit/ 3 jam. Dengan 17 sks yang saya ambil di semester ini, maka
saya harus mengalokasikan 51 jam per minggu untuk belajar.
Sebenarnya saya sudah tahu hal-hal ini sejak dulu, tapi baru
mencoba memraktekkannya di sini. Terlambat memang, tapi mau tidak mau harus
dimulai. Saya tidak ingin menjadi pembelajar oportunis: belajar sesuatu hanya
untuk melewati ujian. Selama ini saya hanya belajar di kelas dan saat-saat
menjelang kuis atau tes. Tak heran bila setelah semester berakhir semua materi
menguap tak tersisa. Awalnya susah memang, tapi saya coba biasakan. Beruntung
beberapa mata kuliah mengadakan kuis tiap pertemuan sehingga memaksa saya untuk selalu membuka buku sebelum
pelajaran esok hari. Adapula mata kuliah yang mewajibkan membuat mini review
dan lecture evaluation setiap selasai pertemuan.
Comments
Post a Comment