Perjalan Terberat



Benar katamu, Ibu. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju Masjid.

Sungguh berat bagiku bangun dan membuka mata untuk menemui-Nya. Jangankan mengejar janji maqamam mahmudah di sepertiga malam terakhir. Dua rakaat fajar yang setara dengan dunia seisinya itu pun kulalaikan. Bahkan sampai mentari pagi menelanjangi, kadang aku masih meringkuk di balik selimut dan tak jua menuju masjid.

Benar katamu, Ibu. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju Masjid.

Tanganku tak terikat borgol.  Kakiku tak terbelenggu rantai. Tapi beranjak memenuhi panggilan adzan terasa seperti menyeret beton.  Membuka kelopak mata seperti  meregangkan jeruji baja. Anak laki-laki yang dulu kau banggakan ini sungguh lemah, Ibu. Maaf telah menyianyiakan jerih payahmu dalam membesarkanku selama ini.

Benar katamu, Ibu. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju Masjid.

Kaki yang masih kokoh sempurna ini terlalu lelah untuk beranjak sepelemparan batu menuju rumah-Nya.  Takbir-takbir sakral itu kini hanya mendengung di dinding kamar. Selembar sajadah kupakai sendiri . Tak ada lagi istilah dari pundak ke pundak, dari kaki ke kaki. Tak segenggam tangan kujabat, tak sebait doa kuamini. Sekelebat kutuntaskan shalat untuk menggugurkan kewajiban.  Padahal Ia menyuruh kita untuk ruku’ bersama orang-orang yang ruku’.

Benar katamu, Ibu. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju Masjid.

Entah sejak kapan aku jadi sok sibuk. Berbagai agenda rapat membabat jadwal shalat. Dering perangkat teknologi menyingkirkan tasbih yang dulu biasa kuputar. Aku merasa seerti orang penting, tak mau diganggu barang untuk sujud sejenak.  Tak kusyukuri bahwa sampainya aku di sini karna izin-Nya. Tak sadar bahwa semestinya nafasku berhembus untuk sebuah alasan: menyembah-Nya.

Benar katamu, Ibu. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju Masjid.

Begitu berkobar semangatku untuk mengikuti kompetisi atau menjadi delagasi konferensi. Begitu riangnya aku melancong dalam keramaian kota. Begitu gigihnya kudaki puncak gunung terjal. Tapi tak tersisih semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, mengisi shaf-shaf kosong dan menegakkan tiang-tiang agama. Aku yang dulu kau elu-elukan sebagai anak pintar ini mulai linglung menggunakan akalnya. Apaguna ilmu dunia tanpa pemahaman moral dan orientasi ukhrawi. Percuma kuinjakkan kaki ke berbagai belahan dunia bila enggan melangkah ke pintu masjid.

Benar katamu, Ibu. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju Masjid.

Barangkali aku dulu hanya seorang bocah polos, tak tahu asyiknya permainan hidup di luar sana. Tak tahu betapa hebohnya bumi berputar. Aku tak begitu memerdulikan ucapanmu – menganggap semua akan baik-baik saja nantinya. Masjid yang dulu tempatku melakukan segala sesuatu kini tak lebih dari sekadar panggon sambil lalu. Surga seperti terbayang di depan mata setelah kesaksian dua kalimat syahadat. Padahal ucapan itu menguap percuma tanpa adanya shalat. Entah layakkah aku disebut muslim yang taat, sementara tak sanggup kupenuhi rukun yang lima itu secara kaffah.

Benar katamu, Ibu. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju Masjid.

Maka doakan anakmu ini, Ibu. Agar ananda mampu menjalankan nasehatmu itu, untuk mengejar rakaat-rakaat yang penuh rahmah, untuk rapal tulus harapan yang bersambut ijabah, untuk berjalan menuju masjid secara istiqamah. Satu langkah menghapuskan jejak kesalahan, satu langkah lainnya menjadi tapak kebaikan. Langkah menjemput seruan shalat, menjemput seruan kemengan.


Kotake-cho, 10/5/2015






gambar dari sini
NB: ditulis habis nemu semacem voice-note di grup wa

Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!