SMT: INDONESIA NIGHT

Jalannya takdir memang susah ditebak. Tak disangka di Jepang saya akan bertemu seorang kawan yang dulu sama-sama berjuang di Master (Masjid Terminal Depok). Bukan orang Indonesia, dia asli Hokkaidou dan berkuliah di jurusan sosiologi, Waseda University. Setelah kontak beberapa kali, kami janjian ketemu untuk melakukan persiapan sebuah projek : Indonesia Night

Adalah Shinji, Anak Jepang yang suka mie godhok dan nasi padang ini telah tinggal di Indonesia selama satu tahun. Di bawah naungan sebuah Non-Profit Organization bernama E-Education ia membuat video pendidikan untuk anak SMA di Depok dan Pulau Sumba dengan tujuan membantu menyaipkan siswa siswi untuk UN dan ujian perguruan tinggi. Dalam pengerjaannya ia dibantu mahasiswa-wahasiswa UI. Kebetulan saat itu saya sedang diamanahkan untuk menjalankan program bimbingan belajar di Master dan akhirnya bekerja sama dengannya.

Indonesia night adalah sebuah acara yang berusaha mengenalkan Indonesia kepada masyarakat Jepang. Saya diminta untuk memberikan presentasi dari sudut pandang seorang warga Indonesia dan seorang pelajar. Saya langsung iyakan. Satu hal lagi saya di minta membuat masakan Indonesia, tidak tanggung-tanggung: Soto Betawi. Untuk yang ini saya garuk-grauk kepala. Tapi untuk berterima kasih karena telah berkontribusi di Indonesia (bahkan dia menunda kuliah setahun), saya terima tantangannya walaupun saya belum pernah memasak makanan serumit itu.

Awalnya saya sedikit santai karena kata salah seorang teman saya bisa membeli bumbu instan di Shinokubo. Tapi sesampai di sana ia melarang saya untuk menggunakannya. “Harus asli” katanya. Aduhmak. Beruntung waktu itu ada Tasni (adik kelas saya semasa bersekolah di MAN Insan Cendekia yang mengambil program Mitsuibusan) yang menunjukkan toko Indonesia lalu menemani belanja bahan dan bumbu.

Keesokan harinya Ia juga membantu kami untuk latihan memasak. Dengan perlatan dapur seadnya di apartment Shinji, kami memasak sembari menonton video peraga via YouTube. Setelah dua jam rangkaian memasak, mangkuk-mangkuk telah penuh, soto betawi pertama buatan kami tercipta. Saya yakin saat itu Shinji berkata “enak” bukan untuk menyenangkan saya. Karena saya sendiri bisa merasakan gurih dan nikmatnya.  

Saat hari H, saya tidak terlalu banyak ikut urusan memasak karena harus presentasi. Tsani yang dibantu beberapa orang sedang mengepulkan asapkan dapur saat saya menjelaskan keanekaragaman suku, budaya, dan bahasa Indonesia pada para audien. Mereka cukup terkejut saat saya beritahu bahwa Indonesia punya lebih dari 1700 pulau: sehingga butuh 40 tahun untuk menjelajahi semuanya bila kita bisa pergi satu pulau satu hari. Sebagai penutup presentasi, saya persembahkan video tari saman. Beruntung saya tidak diminta memperagakan. Bisa lucu nanti.

Di akhir acara kami makan bersama-sama. Enak sekali. Kaldu yang menyatu bersama santan menguatkan aroma rempah-rempah pilihan. Potongan serih, daun jeruk, dan bawang goreng membuat wanginya menjadi-jadi. Terlebih saat itu sedang hujan, tak ada yang lebih mantab daripada semangkuk soto betawi panas.

Saya juga mengajari mereka cara mengulek sambal dengan cobek. Salah seorang mencicipi dan langsung mengernyitkan muka, “Air”. Mereka memang tidak biasa dengan makanan pedas.





Note: SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang


Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!