Pemalu



Jangan mendekat. Aku tak mau kau mendengar degup jantung yang menggebu deru. Seberapapun kucoba santai dadaku selalu kembang kempis.

Jangan menatap. Aku tak tahu ke mana harus kusembunyikan pipiku yang memerah. Aku tak mau lari terbirit birit karena salah tingkah.

Jangan bertanya kabar. Jawabannya sama. Suasana hati akan selalu membaik saat kau ada.

Jangan memulai percakapan. Aku akan bicara aneh tanpa sebab. Satu-satunya dialog yang berjalan lancar adalah lamunanku sendiri.

Jangan berikan perhatian. Aku takut berharap berlebihan. Sedikit gelagat kecil saja akan menimbulkan kesalahpahaman.

Yabai! Kenapa kita harus sekelas? Nanti bukan papan tulis yang kuperhatikan. Aku bisa basah karena keringat dingin.

Apa? Nama kecilku? Panggil aku seperti yang lain saja. Aku bisa mematung gugup bila kau gunakan itu.

Rumahku? Andai bisa kukatakan, saat ini satu-satunya tempat yang ingin kutinggali adalah… hatimu.

Di sudut manapun bumi ini, aku akan selalu bersembunyi. Mengintip kagum indahmu dari balik bayangku.

Aduhai, di dunia yang katanya cinta itu sederhana, aku tak pernah bisa memahami bagaimana ia bekerja. Aku ini pemalu: penuh mau tapi lugu.






Kotake, 20/5/2015

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!