Kelambu Mendung
Kepada langit yang enggan sumringah belakangan ini, haruskah
aku sendiri yang meniti tangga ke atas sana untuk menyibak kelambu mendung itu?
Sebab kau curi mentariku dari pangkuan ufuk timur. Padahal
ia yang biasa menyapaku hangat. Agar tak ada lagi sesak rindu yang datang
bersama angin subuh. Haruskah aku tenggelam dalam sengguk perasaan sepanjang
hari?
Sebab kau curi pagiku bersama juntaian kaki di kursi manja. Padahal
ini secuil kemewahan yang bisa kunikmati bersama secangkir kopi. Entah apa pula
yang kaububuhkan, lidahku mengecap pahit lebih dari biasanya.
Sebab kau curi senyum gadis dari penantian panjang mataku di
sudut jendela. Padahal ialah kilau yang bisa kukagumi di balik kekerdilanku. Tak
ada penyepuh keceriaan hari yang lebih baik dari lengkung manis itu.
Kembalikan langitku. Kembalikan cahayaku.
Kembalikan embun yang menjuntai angggun di ujung daun. Bukan
terpaksa jatuh karna rintik yang memberatkan.

Comments
Post a Comment