Cinta, Takut, dan Harap
Adakah cinta dalam takbirmu? Sehingga kau dirikan badan
tanpa paksaan. Kenapa pula harus terjaga, saat kelopak mata mengerut manja. Saat
bumi terselimut malam, tangismu pupus ditelan kegelapan. Lantas cahaya apa yang
sedang kau nantikan?
Bila yang kau hamparkan di atas sajadah adalah cinta, pastikan
jejak yang kau ikuti adalah jalan sang penuntun. Sebab ia akan membawamu pada pintu
kasih dan ampun.
Adakah takut dalam rukukmu? Sehingga kau tundukkan kepala
bukan karena rutinitas belaka. Sadarkah kita akan keagungan zat yang maha kuasa.
Sementara kita tak lebih dari bonggol rakus dari setitik yang hina. Lantas apa
yang bisa dibusungkan?
Telah sampaikah kesadaran, bahwa tak sejengkal pun gerak
kita terlewat tanpa diawasi. Bagaimana pula menutup noda yang bak jamur di
musim hujan. Kaki dan tangan bersaksi, apakah kita simpuh tersungkur di hadapan-Nya
atau tersingkir dari ridha-Nya.
Adakah harap dalam sujudmu? Sehingga kau pasrah dalam jeda tuma’ninah.
Tak perlu bertanya apakah pantas berangan. Ia memenuhi kebutuhanmu sebelum kau
sempat meminta.
Yakinkah bahwa apa yang tulus dipanjatkan akan sampai ke
langit, dan apa yang dibisikkan akan mengetuku pintunya. Tak ada kata putus asa
untuk rahmat yang telah dijanjikan pada setiap yang bernafas.
Penghambaan tidak diwujudkan pada sekedar gerak jasad. Mata
melihat kasat, tapi hati menerawang hakikat. Adakah ruh yang kau sertakan dalam
setiap penghambaan itu? Cahaya iman tidak berhenti sampai dua kalimat syahadat.
Ia menagih cinta, menuntut takut, dan menyarat harap.
perhal, 18/3/16
gambar dari sini

😢 pas bat Kak ngepostnya, besok gue ulang tahun. So insightfully to create a better human ðŸ˜:")
ReplyDeletewohh, barakallahu fii umrik. semoga tulisannya bermanfaat
Delete