SMT: Ramadan di luar Kampung Halaman
Ramadan ini adalah kali ketiganya saya berada di luar tanah
air. Di tahun sebelumnya saya berkesempatan menjalani ibadah puasa di dua kota
yang nyaris bernama sama namun dengan kondisi yang bertolak belakang, Madina
dan Manila. Ada tantangan tersendiri di setiap pengalaman berpuasa di negeri
orang, tidak terkecuali apa yang sedang saya alami saat ini di Tokyo, Jepang
Madinah (Arab Saudi) memilki atomosfir Ramadan yang sangat
kental. Orang yang berpuasa di sana bisa dikatakan cukup termanjakan.
Masjid-masjid tebuka untuk itikaf, pemandangan orang nderes quran ada di mana-mana, dan masyarakat berbondong-bondong
sedekah iftar dan sahur. Saking banyaknya pernah suatu ketika saya membawa
pulang dari masjid setengah karung berisi roti, kurma, dan yogurt. Saya pun
membagikan ulang di perjalanan pulang. Namun yang menjadi tantangan adalah suhu
yang sangat panas dan udara yang kering.
Hal ini tentunya berbeda jauh dengan Manila (Filipina) di
mana muslim merupakan minoritas (sebagian besar tinggal di Mindanau) dan
memiliki stereotip sebagai masyarkat yang sedikit tertutup. Ramadan di sana
tak ubahnya hari-hari seperti biasa yang kondisi dan suasananya mirip dengan
Indonesia. Saya sering disangka warga setempat saat membeli iftar. Masjid/musholla
sulit ditemukan. Selama 10 hari di sana saya hanya pernah mendengar satu kali
adzan, yakni di Baseco. Untungnya mencari restaurant atau produk halal tidak
terlalu sulit.
Beda lagi dengan di Jepang. Jangankan untuk meributkan soal
kaset pengajian, jadwal mulai puasa, atau pilihan penjual kolak mana yang palik
enak untuk berbuka, muslim di sini lebih pun lebih jarang. Kalaupun ada
sebagian besar adalah warga Pakistan, India, Turki, Malaysia, dan Indonesia.
Untuk makanan halal perlu usaha lebih untuk menemukannya. Kalaupun ada yang
bersertifikat halal, biasanya harganya di atas rata-rata barang normal.
Salah satu yang cukup menjadi tantangan adalah waktu puasa
yang lebih lama. Karena Ramadan bertepatan dengan musim panas, maka muslim di
Jepang harus mampu berpuasa dari pukul setengah tiga hingga tujuh malam, hampir
tiga jam lebih lama dari Indonesia. Untungnya kerjaan saya cuma ngampus,
pulang, lalu masak. Gak kebayang gimana capeknya teman-teman yang punya arubaito (kerja paruh waktu).
Dengan waktu malam yang sangat pendek, saya takut tidak bisa
bangun untuk sahur. Saya pun menyiasatinya dengan menunda waktu tidur dan makan
sebelum tidur. Mungkin ini berisiko menimbulkan perut buncit, tapi lebih baik
demikian ketimbang kelaparan keesokan harinya karena tidak sahur.
Selain itu para pria juga harus sabar menghadapi godaan
mata. Banyak aurat bertebaran di mana-mana. Semakin panas cuaca semakin
menjadi-jadi cobaannya. Busana mereka sangat kurang bahan. Inilah mengapa salah
satu teman saya menasehati untuk tidak sering-sering naik kereta saat puasa
(terus ke kampus pake apa?!). Sama sekali gak lucu kalau sedang nderes qur’an di kereta tapi banyak paha
berseliweran. Kalau gak kuat bisa bahaya. Gak nambah pahala malah numpuk dosa. Astaghfirullah.
Puasa juga menjadi tantangan tersendiri dalam aktivitas
kampus, club/circle misalnya. Di luar
kebiasaan orang Jepang yang suka ngajak minum,
kadang agak sulit menjelaskan kalau kita sedang puasa dan tidak bisa menerima
tawaran makan bersama. Beberapa ada yang tidak tahu istilah ‘fasting’, beruntung saya menemukan kata danjiki, istilah yang cukup sepadan
dengan puasa. Uniknya adalah buka pertama di bulan Ramadhan, saya lakukan
bersama teman-teman di acara Japanese
pera-pera chat dari Internatioanl Community Center (ICC Waseda). Kami makan
malam bersama di Saizeriya, salah satu franchise
restoran ala italia yang cukup terkenal di Jepang. Dan yang paling penting:
di situ ada makanan halal yang murah. Setelah itu banyak pertanyaan tentang
Ramadan bermunculan dari teman-teman. Saya pun menjelaskan dengan senang hati.
Note:
- SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang
- Tulisan ini juga dibuat sebagai kumpulan cerita #Ramadhan Across the Globe FSI FEUI


Comments
Post a Comment