SMT: Muslim Rikkokai
Barangkali salah satu ketidaknyamanan menjadi minoritas
adalah melakukan segala sesuatu sendirian, sulit menemukan teman untuk bersama
sama menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Hal ini mengusik saya untuk mengajak
teman-teman muslim ASEAN yang ada di asrama Rikkokai untuk setidaknya
bersama-sama memeriahkan bulan Ramadhan. Saya pun berinisiatif membuat grup
chat whatsapp.
Di asrama tempat saya tinggal terdapat 8 orang muslim yang
berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darussalam. Walaupun satu asrama
dan satu kampus, kami tidak terlalu sering bertemu mengingat kelas yang kami
ambil berbeda-beda. Kalaupun ketemu biasanya itu di dapur atau toilet dan tak
banyak interaksi yang dilakukan.
Lewat cara klasik, acara pertama yang kami buat adalah: buka
bersama. Saya mengajak mereka untuk buka bersama di sebuah restaurant italia
dekat asrama, Prone Pane. Pemilik
restaurant ini adalah seorang muslim Banglades yang menyediakan makanan halal
dan tempat shalat di dalam restaurannya. Semua sepakat dan kami pun menentukan
hari serta waktu ketemu.
Sepulang dari kampus dengan berbagai kegiatan kami bersama
menuju Prone Pane. Wajah kucel seharian menahan lapar mulai memudar dengan
gelak tawa khas Asia Tenggara. Percakapan yang meramaikan jalan yang kami
lewati masih berlanjut hingga di tempat tujuan. Rasanya tak ada yang lebih lega
dari pada menggunakan bahasa lidah sendiri, boleh lah cakap melayu sikit.
Kira-kira 30 menit kami menunggu sebelum akhirnya kami bisa
menenggak air putih dan berbagai minuman yang ada di meja. Alhamdulillah
pemilik restauran memberikan servis minuman secara cuma-cuma untuk iftar. Wah
yaini yang namanya ramadhan Mubarak, hehe. Untuk makan, saya pilih menu kare
mengingat sangat susah menemukan kare Jepang yang halal. Biasanya yang dijual
di pasaran di dalam bumbunya mengandung ekstrak daging babi atau sapi.
Allahumma lakasumtu
wabika aamantu, birahmatika yaa Arhamar Rahimin,
Itadakimasu!
Acara selesai dan waktunya membayar. Hehe.. seperti biasa,
saya selalu garuk-garuk dompet setiap kali berbelanja atau makan. Biaya hidup
di Tokyo memang super mahal, terlebih untuk kasus khusus restaurant halal.
Untuk hal-hal seperti ini biasanya saya siasati dengan strategi subsidi silang:
berarti besok saya makan telur ceplok saja. Alhamdulillah, bersyukur masih
dapat rizki makanan.
Agar tidak hanya bersenang-senang saya mengajak teman-teman
untuk tarawih berjamaah. Di asrama memang tidak ada mushollah. Tapi untungnya pengurus
asrama memperbolehkan kami menggunakan ruang belajar setelah jam operasional
selesai. Biarpun sudah mulai sedikit mengantuk kami pun shalat teraweh pukul 10
malam. Dan itulah tarawih berjamaah pertama saya di Jepang.
Note:
- SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang
- Tulisan ini juga dibuat sebagai kumpulan cerita #Ramadhan Across the Globe FSI FEUI

Comments
Post a Comment