Lelahnya Menunggu: Sekilas Ulasan Biaya Menunggu dalam Perspektif Ekonomi Transportasi
Walaupun
bukan penduduk nomaden, dalam menjalankan aktivitas sehari-hari setiap orang
pasti bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, misalkan untuk bekerja, sekolah,
belanja, atau berlibur. Karenanya permintaan akan moda transportasi akan selalu
ada, baik dengan kendaraan pribadi maupun umum.
Selama
belum ada alat transportasi seperti ‘pintu kemana saja’ milik Doraemon, dalam
proses bepergian tersebut akan selalu ada waktu yang kita habiskan untuk
menunggu, entah itu di dalam kendaraan atau di luar kendaraan. Pengguna kereta
akan menunggu datangnya kereta sesuai jadwal. Di dalam kererta pun mereka harus
menunggu hingga sampai tujuan. Bahkan, untuk pengguna kendaraan pribadi pun
kadang harus menunggu pemanasan mesin hingga kendaraannya siap digunakan.
Di
luar dari kiasan kata ‘menunggu’ untuk kepastian perasaan dari dambaan hati,
aktivitas menunggu yang sebenarnya dalam konteks bepergian itu melelahkan
bukan? Tapi pernahkah kita coba mengukur
seberapa besar pengorbanan kita dalam menunggu?
Biaya Peluang
Dalam
ilmu ekonomi, hal yang mendasari tindakan manusia adalah
utiiltas/kegunaan/manfaat (utility). Utilitas yang kita korbankan ketika kita
memilih melakukan sesuatu adalah biaya peluang (opportunity cost). Inilah salah satu alasan yang mendasari adanya
praktek penarikan bunga dalam kredit. Pihak debitur bisa menggunakan dananya
untuk investasi bila ia tidak menyalurkan kredit. Tentunya bukan hanya uang
yang bisa menjadi ukuran biaya peluang yang kita habiskan selama menunggu,
namun untuk simplifikasi, uang dapat menjadi contoh yang bagus dalam memahami
hal ini.
Kita
biasa mengenal istilah waktu adalah uang, sebab, terlepas dari wujud uang,
banyak hal bisa kita lakukan dan berdampak positif bagi kita jika bisa
memanfaatkan waktu dengan baik. Bagi orang yang bekerja bisa menilai seberapa
berharga waktunya melalui gaji yang ia peroleh per satuan waktu, misal 50 ribu
rupiah per jam bagi pegawai, atau contoh yang ekstrim untuk satu jam yang
dihabiskan pemain klub sepak bola Real Madrid, Garreth Bale mendapatkan imbalan
27,6 juta rupiah. Barangkali untuk pemain sekaliber dia, peribahasa ‘diam
adalaah emas’ cocok sebagai representasi.
Bila
dikaitkan dalam dunia transportasi, perhitungan biaya peluang dalam menunggu
tidak semata-mata didasarkan pada angka yang tertera di slip gaji saja. Ada
beberapa hal yang memengaruhi preferensi orang dalam menghabiskan waktu. Namun
yang pasti adalah faktor-faktor preferensi berujung pada utilitas yang
dirasakan setiap orang.
Estimasi Kepuasan dalam Bepergian
Mc
Fadden (1977) mencoba melakukan estimasi utilitas para penglaju di San Fansisco
dan Oakland. Ia menemukan bahwa kepuasan seseorang dalam bepergian dipengaruhi
secara negatif oleh biaya yang dikeluarkan per satuan gaji. Waktu bepergian baik di dalam ataupun di luar
kendaraan juga mengurangi kepuasan yang dirasakan para penglaju. Serta ada pula
pengaruh preferensi dari pilihan moda transportasi seperti pemilihan penggunaan
kendaraan pribadi, kendaraan umum, ataupun jemputan [1].
Dalam
penelitian tersebut, masyarakat mempersepsikan bahwa waktu bepergian yang
dihabiskan di dalam kendaraan setara dengan 49% dari gaji. Hal ini berarti bila
kita mendapatkan gaji Rp 60.000 per jam (1000 per menit), tiap menit yang kita
habiskan dalam kendaraan setara dengan 490 rupiah. Bila kita terjebak kemacetan
selama 30 menit, berarti kira-kira kita merugi Rp 14.700. Angka ini hanya
perhitungan biaya menunggu, belum termasuk bahan bakar yang terbuang dan biaya
kekesalan/kejenuhan. Dengan kerugian yang begitu besar, tak heran bila
masyarakat menuntut agar permasalahan macet segera diselesaikan.
Sedangkan
persepsi pada waktu bepergian di luar kendaraan memiliki presentase yang jauh
lebih tinggi, yakni 129% dari gaji. Jadi untuk pegawai yang bergaji Rp 60.000
per jam, tiap menit yang dihabiskan untuk menunggu kendaraan setara dengan 1290
rupiah. Dengan demikian, orang tersebut rela membayar 12900 agar bus datang 10
menit lebih cepat. Namun tentunya tidak mungkin supir bis hanya melayani dia
seorang.
Apa
yang diteliti McFadden ini mungkin belum tentu bisa menggambarkan kondisi yang sebenarnya
di Indonesia. Terlebih terkadang ada pengaruh pola prilaku yang tidak terukur
dalam model penelitian, seperti orang yang memang hobi menyetir. Namun kiranya
perhitungan di atas dapat menjadi gambaran bagaimana kita mempersepsikan
seberapa ruginya menunggu melalui biaya peluang.
Menilik Transportasi Jepang
Mahalnya
biaya menunggu menuntut reliabilitas sistem transportasi yang baik. Dengan
armada yang nyaman dan jadwal yang tepat waktu, maka kerugian dalam menunggu
dapat diminimalisir, setidaknya sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Jepang dapat menjadi contoh negara yang memiliki sistem transportasi yang
canggih dan terorganisir dengan baik. Pemerintah maupun korporasi swasta
bekerja sama dalam menyediakan sarana transportasi bagi masyarkat Jepang yang
mobilitasnya sangat tinggi. Di Osaka, Nagoya, dan Tokyo, dalam setahun
penumpang kereta yang terangkut bisa mencapai 20,1 milyar.
Penulis
sendiri merupakan penglaju yang setiap harinya menggunakan transportasi umum
untuk pergi beraktivitas di Tokyo. Dari tempat tinggal penulis menempuh total
50 menit untuk bisa sampai ke kampus. Tidak terlalu jauh dibanding teman atau dosen
penulis yang bahkan bisa menghabiskan lebih dari dua jam karena harus berangkat
dari perfektur yang berbeda. Dengan bagusnya sistem transportasi, menglaju
merupakan hal yang biasa.
Menunggu
memang melelahkan dan mahal. Karenanya, sayang bila habiskan waktu dengan
berdiam diri. Ada banyak alternatif yang bisa dilakukan selama menunggu, baik
di dalam kendaraan maupun luar kendaraan. Dari yang saya amati di kereta bawah
tanah Tokyo, para penglaju biasa membaca buku, koran, komik, belajar, atau
menghapal kosakata bahasa Inggris lewat kamus, walaupun memang beberapa ada
yang bermain game. Kita pun bisa menyiasati hal ini dengan mengikuti kebiasaan
baik mereka atau melakukan hal positif lainnya, seperti membaca alquran. Dengan
melakukan aktivitas lain, kerugian biaya peluang dalam menunggu dapat
tergantikan.
Catatan:
[1]
Mc Fadden memperoleh hasil estimasi sebagai berikut.
Di mana V adalah utilitas, c,w, T, dan T0, adalah biaya, gaji, waktu yang diperluakan di dalam kendaran, dan waktu yang diperlukan di luar kendaraan. Sedangkan D1, D3, D4, adalah variabel dummy untuk kendaraan pribadi, menyetir sampai pemberhentian transportasi umum, dan kendaraan jemputan. PIlihan moda sebagai variabel kontrol dalam estimasi ini adalah berjalan sampai pemberhentian transportasi umum.
Di mana V adalah utilitas, c,w, T, dan T0, adalah biaya, gaji, waktu yang diperluakan di dalam kendaran, dan waktu yang diperlukan di luar kendaraan. Sedangkan D1, D3, D4, adalah variabel dummy untuk kendaraan pribadi, menyetir sampai pemberhentian transportasi umum, dan kendaraan jemputan. PIlihan moda sebagai variabel kontrol dalam estimasi ini adalah berjalan sampai pemberhentian transportasi umum.
Untuk
merepresentasikan estimasi tersebut dalam satuan uang. Maka persamaan dapat dibagi dengan, w/0.0412 sehingga menjadi
Interpretasi dari kepuasan dalam satuan uang tersebut dapat dilihat dari koefisien masing-masing variabel independen.
gambar dari sini

Comments
Post a Comment