SMT: Terbang
Bagaimana lebah bisa terbang?
Karna dia mengepakkan sayapnya. Tentu saja. Tapi dengan badan besar yang sangat
gendut dan tidak proporsional dengan sayapnya, pakar aeordinamika pun sulit
menjelaskan bagaimana lebah bisa mondar-mandir ke sana kemari dengan sangat
leluasa. Apalagi mereka biasa membawa polen, nektar, dan muatan lainnya. Ahh,
kalau Allah berkehendak, apasih yang tidak bisa?
***
Mendapatkan tiket masuk ke Waseda
University sebagai mahasiswa pertukaran pelajar tidak langsung menjamin saya
bisa ke Jepang. Untuk mendapatkan izin tinggal di sana, saya harus menyertakan
bukti yang menunjukkan kemampuan finansial. Tentu saja saya tidak punya puluhan
juta rupiah di rekening yang seringkali sesak nafas karna jarang diinjeksi.
Namun untungnya tempat ayah saya bekerja mau mengeluarkan semacam surat jaminan
untuk biaya hidup[1]
sehingga proses pengajuan certificate of
eligibility menjadi lancar.
Namun masalah belum selesai.
Lantaran tidak mendapat beasiswa untuk tinggal di sana, saya masih harus
memutar otak bagaimana mendapatkan dana. Biaya hidup di Tokyo sangat mahal.
Bahkan tahun 2014 The Telegraph memeringkatkannya pada posisi kedua sebagai
kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Bagaimana mungkin mahasiswa penghuni
golden triangle (Kosan-Kampus-Warteg)
seperti saya ini bisa menanggung sendirian? Tapi saya yakin Allah maha kaya.
Masa cuma tiket pesawat ke Jepang plus biaya hidupnya ga dikasih?
Memulai usaha pencarian dana, seperti
yang disarankan teman-teman saya yang sudah biasa ikut conference, saya membuat proposal sponsorship. Beruntung saya memiliki pembina dan pengurus asrama
yang baik – mereka mau membantu saya mengajukan proposal tersebut ke berbagai
perusahaan. Saya bersyukur menjadi bagian dari asrama YKM FEUI, terlebih
semangat dan dorongan untuk berkembang dan menjadi probadi yang lebih baik
selalu gencar diberikan[2].
Saya juga berada di lingkungan yang baik dan teman-teman yang selalu mendukung[3].
Sebulan sebelum keberangkatan
proposal tersebut telah tersebar kemana-mana. Tentu saya tidak bisa tinggal
diam menunggu hasil pengajuan proposal yang lagipula belum tentu ada hasilnya. Prioritas
utama saya adalah memenuhi biaya pesawat dan tinggal sebulan. Untuk selanjutnya
saya berencana mengambil kerja sambilan di Tokyo. Di sana pelajar diizinkan
bekerja hingga maksimal 28 jam per minggu. Jika UMR ¥ 800 per jam maka dengan jatah kerja setengahnya saya
sudah bisa hidup.
Selain mengencangkan ikat
pinggang untuk pengeluaran, saya pun mulai mencari uang serabutan, mulai dari
mengajar anak-anak SMA sampai menjadi responden penelitian yang memberikan
insentif. Saya masih ingat pernah ikut focus
group discussion hingga jam 10 malam di sebuah kantor riset. Uniknya adalah
di situ saya harus berpura-pura sebagai otaku karena penyelenggara penelitian
adalah perusahan media hiburan jepang. Beruntung saya masih ingat beberapa anime, tokusatsu, dan dorama yang pernah saya tonton.
Harus diakui di saat-saat
terdesak seperti ini, saya yang biasanya begajulan
jadi sedikit alim. Saya coba gencarkan shalat malam dan dhuha. Saya
kuat-kuatkan untuk puasa, sekaligus menghemat pengeluaran. Karena waktu yang
cukup renggang, saya juga mendengarkan tausyiah dan membaca buku Islami. Salah
satu hal yang saya camkan adalah sedekah. Sedekah merupakan wujud dari syukur
nikmat. Allah janjikan bagi orang yang bersedekah tidak akan kekurangan, justru
berkali-lipat Dia limpahkan nikmat yang lebih besar.
Antara ikhlas atau tidak,
barangkali masih terbersit keinginan untuk mendapatkan balasan saat memberi
atau ketika sedang beribadah. Tapi ya mau bagaimana lagi. Pokoknya harus saya
paksakan. Suatu saat saya pernah mengonsultasikan hal ini kepada guru ngaji saya.
Ia menyarankan untuk terus melakukannya dan membiasakannya. Jangan
mengukur-ukur keikhlasan. Biarkan Allah yang menilai semuanya, Ia tahu apa
dalam hati hamba-Nya walau tak sepatah kata pun dibisikkan. Walaupun tidak bisa
langsung, ikhlas bisa dipelajari dengan keistiqomahan. Konsistensi. Akhirnya
saya turuti saja nasehat itu.
***
Tidak semua proposal yang
diajukan ditanggapi oleh perusahan. Adapun itu berupa surat penolakan, termasuk
salah satu maskapai penerbangan ternama di Indonesia. Sedangkan hasil cari uang sendiri baru mencukupi 2/3 dari harga tiket pesawat yang kian hari semakin naik.
Di tengah-tengah kepenatan
tersebut, saya juga mengerjakan dua penelitian yang didanai Kemendikbud dalam
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bersama teman-teman UI lain[4].
Salah satu penelitian mengharuskan kami untuk turun langsung ke lapangan.
Artinya, kami pergi ke Bojonegeoro dan Jember untuk bertatap muka dengan petani
tembakau dan kedelai. Sebenarnya ini kesempatan yang bagus karena saya bisa
sekaligus pulang dari Depok ke Lamongan dan pamitan dengan keluarga. Sambil
nyelam minum air.
Sesaat sudah di Lamongan, tepat
sebelum berangkat ke Bojonegoro, rumah saya kedatangan seorang paruh baya.
“Mas, kulo sadean pacul. Namung
setunggal, kangge bayar ongkos wangsul teng Blora. Biasane kulo tumut rewang
teng saben. Sameniko badhe wangsul, mas. Bekmenawi saget tumbas…”
mas, saya jualan cangkul. Cuma satu, untuk bayar biaya pulang ke Blora.
Biasanya saya ikut kerja jadi buruh tani. Tapi sekarang mau pulang, mas.
Barangkali bisa beli…
Jelas saya saat itu tidak sedang
membutuhkan cangkul, tapi ada dorongan untuk membantu bapak tersebut. Penderitaan
akan terasa bila kita coba memosisikan diri sebagai orang lain. Dan saat itu
saya tahu benar rasanya susah pergi karena tidak punya ongkos. Akhirnya saya
bantu sebisa saya. Tidak banyak uang yang ada di dompet saya saat itu. Saya sisihkan
untuk biaya perjalanan saya, sisanya saya berikan kepada Bapak tersebut. Saya
juga antarkan beliau ke tempat pemberhentian bus.
Siang harinya kami sampai di
Bojonegoro dan langsung menjalankan tugas. Kami mewawancarai beberapa petugas
dinas pertanian dan melakukan pengambilan data yang dibutuhkan. Sebelum
perjalanan dilanjutkan ke area pertanian, saya mendapat pesan chat dari nomor yang tidak saya kenal.
Isinya agak meragukan dan mirip penipuan. Namun setelah saya periksa email yang
memuat pemberitahuan senada, saya yakin dengan kebenaran chat terserbut : sebuah perusahan tour & travel bersedia
memberikan bantuan tiket pesawat pulang-pergi dengan maskapai penerbangan dari
Korea Selatan.[5]
Entah apalagi yang bisa saya
lakukan selain ucap syukur tiada henti. Selalu ada rizki dari jalur yang tidak
disangka-sangka. Baru pagi itu saya coba bantu seseorang untuk kembali pulang degan
jarak 135 km Lamongan-Blora. Namun Allah berikan balasan puluhan kali lipat,
mengingat jarak Jakarta-Tokyo adalah 5800 km. Semoga ini tidak berujung ria’.
Saya berharap bisa berbagi pengalaman dalam mendapatkan manfaat sedekah. Seperti
ilmuan yang susah mempercayai bagaimana lebah bisa terbang, saya juga awalnya bingung
bagaimana saya bisa terbang ke Jepang. Tapi sedekah membantu saya untuk
mengepakkan sayap dan terbang.
Note: SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom
khusus untuk catatan saya selama di Jepang
[1]
Saya harus mengucapkanterima kasih banyak untuk Pak Arsyad Adi, direktur Mahesa
Institute.
[2]
Special thanks to Bang Al, Ka Teguh, Bang Andi, Pak Budi, Bang
Acai, segenap pengurus , supervisor, dan teman-teman asrama YKM
[3]
Terima kasih untuk teman-teman rawapule, Keilmuan, dan BEM FEUI
[4]
Maaf dan terima kasih untuk grup PKM-P Waste Management (Agis, Ayu, Fahmi,
Agung) juga tim PKM-P Konversi Kedelai (Wegit & Melly)
[5] Terima kasih untuk Bang Haris, Pak Arif, dan Sakadia Tour
Comments
Post a Comment