SMT: Mandiri
21 Maret 2015. Saya tiba di Jepang dan sedikit terkejut. Ekspektasi musim semi yang saya
bayangkan hangat hilang seketika. Yang ada saya justru bergemeletuk gigi dengan
dinginnya udara. Maklum, saya yang biasa hidup di Depok ini tak mungkin kuat
dengan suhu 10o – yang kata orang Jepang sudah jauh lebih hangat
dari musim dingin.
Sesampai di bandara saya langsung di antar menuju Rikkokai
Dormitory, sebuah asrama khusus pelajar internasional. Asrama yang akan saya
tinggali untuk lima bulan ke depan ini cukup nyaman. Fasilitasnya cukup
memadai, termasuk ruang belajar, halaman, dapur, hingga perpustakaan. Andaikan sekaligus
ada mushallah, pasti makin oke. Namun satu hal yang paling saya suka dari tempat ini adalah beberapa pohon sakura yang
menghiasi depan gedung.
Penghuni Rikkokai bukan hanya 26 peserta program AIMS Waseda
yang berasal dari 4 negara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, Filipina),
tapi juga ada mahasiswa dari universitas lain seperti Musashi University dan
Tsukuba University. Mereka berasal dari beberapa Negara, namun sebagian besar
adalah Brazil.
Karena setiap penghuni menempati single room, masing-masing
harus bertanggung jawab atas kebersihan kamarnya. Walaupun sudah mengalami
kehidupan asrama sejak SMP, saya masih harus beradaptasi untuk bisa mandiri,
terlebih soal memilah sampah dan memasak.
Bersyukurlah bagi yang tinggal di negara mayoritas muslim
karena tidak perlu pusing memikirkan perkara halal-haram. Karena tidak bisa
membaca kanji, di beberapa hari awal
saya mengganjal perut dengan membeli nasi putih instan dan memakannya
dengan sarden kaleng atau abon yang saya bawa dari rumah. Dengan menanyakan ke
beberapa teman muslim di Jepang, perlahan saya tahu makanan-makanan yang aman untuk
dimakan. Mulai dari onigiri tuna, roti dengan elmusifier nabati, susu murni,
hingga mencoba masak sendiri dengan makanan laut. Adapun masakan pertama saya
adalah soba dengan kuah sayur asam.
Sebagian besar fasilitas digunakan secara mandiri. Barangkali
vending machine untuk softdrink dan snack, juga mesin cuci koin sudah biasa saya jumpai. Tapi di sini
untuk menyalakan kompor (baik listrik maupun gas) dan shower pun dengan mesin koin otomatis. Baiknya adalah mandi menjadi
efisien karena sekali koin dimasukkan kita hanya punya 8 menit. Gak Kebayangkan
kalau waktu memakai shampoo atau sabun muka tiba-tiba air habis.
Terkait hal ini saya jadi teringat pelajaran mengenai public goods dan private goods. Sejatinya kamar
mandi memang merupakan barang prifat karena setiap kali kita menggunakan tidak
mungkin orang lain juga menggunakan, kecuali Anda cukup gila untuk berbagi shower. Dari hal ini unsur rivalry terpenuhi. Penggunaannya pun
menyaratkan orang untuk memiliki koin ¥100. Sehingga memungkinkan untuk
mencegah seseorang yang tidak punya uang untuk mandi. Unsur excludable juga terpenuhi
Adapun kamar toilet yang biasa ada di tempat umum sebenarnya
tidak menggugurkan toilet sebagai barang privat. Sebab sebenarnya SPBU atau
stasiun pun bisa saja menarik terid dengan mudah dan kita mau tidak mau harus
membayar. Namun sepertinya mereka cukup rasional untuk mengutamakan pelayanan
pelanggan. Tak ada salahnya sektor publik menyediakan barang privat. Berbeda dengan
jalan raya – contoh barang publik – yang bisa gunakan secara gratis dan tanpa gangguan.
Hal ini karena tidak memungkinkan bagi pemerintah/pemilik jalan raya untuk
menarik bayaran di setiap ruas jalan.
Maaf bila terlalu banyak bahas soal toilet. Saya berusaha
mengambil pelajaran di setiap fenomena yang saya temui, walau dari hal tabu
sekalipun. Dan semoga ilmu pengetahuan dan setiap tanda-tanda kekuasaan-Nya yang
Dia tampakkan semakin mendekatkan kita pada-Nya.

Comments
Post a Comment