SMT: Sebuah Janji (part 2)
Esok harinya saya datang ke
International Office FEB UI. Ternyata benar yang saya takut-takutkan: saya
belum berkesempatan untuk ke Jepang. Berkas aplikasi saya sudah diterima dulu
di IO sebelum surat dari departemen sampai, sehingga nama sayalah yang keluar
di pengumuman sebelumnya. Sebenarnya Deartemen Ilmu Ekonomi merekomendasikan
saya ke Ritsumeikan University, bukan Waseda University. Namun di International
office, ternyata kursi untuk waseda ternyata sudah ada yang menduduki. Alhasil,
saya tidak jadi ke mana-mana. Walaupun sudah diterangkan secara jelas dan saya
telah berkata faham, tetap saja rasanya ada yang mengganjal. Ikhlas itu susah,
bro. Bahkan saat menuliskan ini sedikit rasa kesal itu masih ada. Di situ saya
merasa…. Entahlah.
Sekembali dari kantor IO, saya
pulang dengan lunglai. Kelas asistensi yang mestinya ada di sore hari saya
lewati. Siapa pula yang bisa konsentrasi dengan kondisi seperti ini.
Rencana-rencana yang saya susun rapi ambruk begitu saja. R-e-m-u-k.
Entah ini mendramatisir atau
bukan tapi waktu itu saya memang sangat kacau. Sebenarnya saya tidak terlalu
peduli bagaimana nanti kata orang saya bingung bagaimana menjelaskannya pada
orang tua. Bagaimana pula saya membayar janji pada karib baik saya dengan
tenggat yang terus tergerus waktu.
Apa hendak dikata, saya tidak
bisa berbuat apa-apa. Saya tidak mencoba membuang atau melupakan hal ini. Saya
berusaha menyimpannya dalam-dalam dan sebisa mungkin ceria, walaupun banyak
yang melihat raut kekecewaan saya. Setiap kali ada yang bertanya rencana
kepergian saya untuk pertukaran pelajar, rasanya seperti menyungkil duri dari
kulit, tapi saya coba jawab dengan santai.
Waktu memang mengurangi luka,
walaupun belum tentu menyembuhkan. Saya sibukkan diri dengan hal-hal lain. Saya
juga berpikir barangkali Allah menyiapkan skenario lain di semester enam nanti.
Mungkin ada wadah yang lebih membutuhkan saya ketimbang hanya memenuhi ego
pribadi yang belum jelas manfaatnya. Atau mungkin sudah saatnya saya untuk
berhenti main-main dan mulai membahagiakan orang tua. Kebetulan memang kondisi
usaha keluarga butuh bantuan saya.
Setelah hampir dua minggu ujian,
semester lima pun berakhir. Jangan Tanya hasil IP karena saya termasuk
mahasiswa fakir nilai. Barangkali kalo ada zakat bagi-bagi IP sepertinya saya
masuk dalam antrean asnaf. Hehe… ngga deng. Ndak segeitunya. Bersyukur sajalah.
Selain bermain, travelling, dan
melakukan berbagai hal konyol, saya juga habiskan liburan untuk membantu orang
tua, mulai dari hal remeh temeh rumah tangga, menjadi guru ngaji di
padepokan, sampai membantu usaha ayah di
Kediri. Di tengah-tengah liburan itu saya mendapat telepon dari salah seorang dosen
sekaligus mentor saya.
“Pyan, kamu coba hubungi pihak Internatioanl
Office, saya dapet kabar ada kuota tambahan dari Waseda University.”
Sejenak saya terdiam. Apalagi ini?
Tidak terlalu banyak berharap
tapi saya coba hubungi Departmen. Salah satu staff Departmen mengiyakan hal
tersebut dan meminta saya langsung untuk menghubungi IO. Ternyata ia jugabaru
menyebarkan berita tersebut melalui email angkatan. Awalnya saya agak ragu
untuk mengontak lantaran permasalahan sebelumnya, tapi saya buang pikiran itu
jauh-jauh. Saya pun akhirnya mengirim email terkait ketertarikan saya mengisi
tambahan kuota tersebut. Tidak lama setelah itu salah satu staff IO-UI membalas
email saya beserta mengirimkan list dokumen yang harus dikirimkan: malam itu
juga. What the….!
Setelah menanyakan kembali saya
diberi kelonggaran untuk mengumpulkan berkas utama saja (walaupun sebenarnya
masih banyak juga), untuk surat rekomendasi dan lain-lainnya bisa dikumpulkan
sekitar 10 hari setelah itu, namun saya tidak boleh mencabut keputusan saya
bila nanti benar-benar diterima.
Di pengumuman diberitahu bahwa
satu kursi tambahan ini akan mendapat beasiswa sebesar 250.000 ¥. Tahu ada
beassiswa tersebut saya jadi ingin langsung tancap gas. Tapi saya baru ngeh ternyata di Tokyo uang tersebut
hanya cukup untuk sewa tempat tinggal. Terus
nanti makan apa? Biaya hidup (tidak termasuk tempat tinggal) di sana untuk
satu semester bisa digunakan membayar kuliah di UI sampai lulus. Saya tidak
ingin terlalu banyak memberatkan keluarga. Wong
udah gedhe.
Saya coba menanyakan pada Abi
walaupun sebenarnya sudah tahu jawabannya, “Wes ga usah mikir, budal wae, duek gampang
dolekane” Udah ga usah mikir, berangkat
saja, uang mudah dicari. Saya sudah terlalu banyak tertipu kebaikannya yang
selalu mementingkan anak, terlebih soal pendidikan, walaupun ia harus berhutang
atau menjual sesuatu. Dari ibu sendiri ia menyarankan untuk istikharakh dulu,
pertimbangkan manfaat dan mudzaratnya, jangan sampai kepergian saya ke sana
hanya membawa gengsi tanpa ada kemaslahatan untuk umat, atau bahkan untuk diri
sendiri. Saya jadi teringat teringat nasehatnya tempo hari. Ia mengingtakan
saya bahwa kita boleh menuntut ilmu ke manapun, sejauh apapun, bahkan sampai
bissin (ke China) sekalipun. Tapi yang dituntut itu ilmu untuk kebaikan, bukan
yang membuat kita pongah dan merasa berdrajat tinggi.
Setelah berdiskusi dengan
beberapa teman dan juga mentor, saya akhirnya memutuskan mengambil kesempatan
tersebut. Esai saya kerjakan sebisanya dan malam itu juga berkas saya kirim.
Tentu tidak sampai di situ urusannya. Saya masih harus menyiapkan berkas lainnya.
Karenanya saya harus segera memesan tiket ke Depok.
Tiga hari setelahnya saya sudah
berada di Depok. Salah satu berkas yang harus saya dapatkan adalah surat rekomendasi.
Untuk yang satu saya beruntung punya Kaprodi yang sangat baik. Hari itu juga
saya langsung bisa mendapatkan surat tersebut. Untuk pengurusan berkas lain
(yang ceritanya cukup seru) akan saya ceritakan lain hari.
Untuk standar keahlian bahasa
inggris, Pihak IO dan Waseda hanya mau menerima minimal TOEFL IPT sedangkan
yang saya punya hanya prediction tes biasa. Itupun sudah lama. Saya harus mendaftar
tes di Lembaga Bahasa International UI. Jadwal tes yang tersedia adalah minggu
depan dan hasilnya baru keluar setelah 15 hari yang berarti sebenarnya telah
masuk hari perkuliahan di UI. Registrasi akademik UI ditutup tiga hari sebelum
kuliah berlangsung tapi saya memutuskan untuk terus lanjut mendaftar ke Waseda.
Sebelum saya berangkat ke Depok
saya sempatkan mengambil tes prediksi di Kediri dan hasilnya sangat
mengecewakan: 520 – jauh dibawah syarat minimal, 550. Barangkali liburan membuat
otak saya beku. Tapi bagaimanapun saya harus mati-matian mengejar
ketertinggalan karena Jika saya gagal mendapatkan angka minimal 550 saya tidak
akan kuliah di semester itu, baik di UI maupun Waseda.
Salah satu hal yang kadang
membuat makhluk hidup berhasil melakukan hal-hal yang luar biasa adalah
keterancaman. Saat itu mungkin itu yang terjadi pada diri saya. Dalam seminggu
saya lahap habis buku-buku latihan TOEFL. Kemana-mana selalu saya bawa. Setiap ada
kesempatan saya buka, termasuk saat menunggu antrean mandi atau berdiri di
kereta. Kalau dihitung-hitung lebih dari 1500 soal saya kerjakan. Saya sudah
berusaha maksimal dan sisanya saya serahkan pada Allah. Dia tahu apa yang
terbaik untuk hambanya.
Selama masa menunggu hasil, saya
sibukkan diri dengan masuk (sit in)
kelas-kelas yang saya anggap seru, setidaknya saya tidak jadi mahasiswa
pengangguran. Setiap hari saya usahakan agar tidak lewat shalat malam dan dhuha.
Saya panjangkan waktu dzikir dan berdoa. Alim karbitan? Entahlah. Mungkin saya
jadi hamba yang oportunis, tapi saat itu saya tidak tau harus mengadu kepada
siapa lagi selain pada Allah.
Hari pengumuman tiba dan saya
beranikan diri untuk datang ke LBI mengambul hasil tes. Pelan-pelan saya buka
amplop tipis tersebut dan….. Alhamdulillah hasilnya bahkan di atas ekspektasi
saya (tetep ga mau bilang :P). Mungkin saya bisa katakan practice makes perfect!, tapi dibalik itu semua Allah yang memberi
kekuatan dan semangat untuk berjuang serta kemudahan jalan yang lapang.
Beberapa hari setelah itu saya
mendapatkan kabar gembira mengenai diterimanya saya di salah satu kampus
terbaik Jepang itu. Email itu saya simpan dulu. Saya baru mengabari orang tua
dan teman-teman dekat setelah saya mendapat berkas asli COA (Certificate of Admission), surat beasiswa, dan CoE (Certificate of Eligibility) seminggu
kemudian.
Menjadi salah satu mahasiswa yang
mengikuti program pertukaran pelajar di Jepang (Waseda University) sebenarnya
bukan hal yang prestisius untuk bisa dibangga-banggakan. Saya yakin banyak
teman saya yang memiliki kapasitas intelktual yang lebih pantas dibanding saya.
Bukan hal yang sulit bagi mereka untuk melewati seleksi yang ada. Namun saya
bersyukur Allah memberi kesempatan berharga ini. Semoga saya bisa
memanfaatkannya dengan baik.
Belum tiba di Jepang, tapi
akhirnya saya bisa mengunci satu kaki di tanah matahari terbit untuk membayar
janji pada sahabat saya. Beberapa langkah yang telah lalu tidak saya akui
sebagai sebuah kegagalan. Barangkali itu yang memang harus saya lalui untuk
menyadarkan diri saya bahwa betapa papa hamba ini, betapa besar kuasa-Nya, dan
setiap saat saya harus terus meluruskan niat dalam mengejar keinginan.
Note: SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang
Note: SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang


Comments
Post a Comment