Ada Saatnya
Ada saatnya aku tak perlu lagi
menulis prosa dan elegi kegundahan. Tak usah lagi kubahasakan hujan untuk
membasahi keronta hati. Aku berhenti mengawangmu yang bak bidadari jelita nan
anggun, namun sejatinya hanya siluet tak teraba.
Ada saanya aku tak perlu
menghabiskan malam dengan getir kesepian. Karena nyatanya di bawah cahaya
rembulan, tak ada yang benar-benar sendiri. Entah ruang atau waktu yang
memisahkan, aku yakin sekarang kita sedang bersama.
Ada saatnya aku berhenti samarkan
dirimu dengan kata ganti, karna pasti akan kutemukan sebuah nama. Yakni nama
yang muncul sebagai jawaban atas doa-doa khusyuk-ku.
Walau gamang, aku mencoba percaya bahwa yang baik hanya untuk yang baik.
Sampai saat itu tiba, yang bisa
kulakukan hanya bersabar, sampai aku bisa bertanggung jawab atas perasaanku.
Sebab perasaan bukan hanya soal mencari kesenangan, tapi juga kedamaian hati.
Dan untuk meraih kedamaian, kadang kita memang harus berperang, setidaknya
melawan diri kita sendiri.
Barangkali kita memang tidak bisa
berhenti berharap, namun setidaknya kita tidak saling menuntut. Biarkan doa
yang melesat naik ditiup hembus keikhlasan untuk saling menjaga, bukan
memberatkan dengan beban tuntutan untuk saling memiliki.
Biarkan langit memainkan
perannya. Tak ada skenario yang lebih indah ketimbang apa yang telah tertulis
di lauh mahfudz. Jangan khawatir, akan kita temukan kisah apik yang bisa kita
ceritakan ke anak-cucu. Lalu sampaikan kepada mereka bahwa hidup akan indah bila
dipenuhi berkah.
Aku tak akan banyak bicara lagi.
Terkadang kadang kata-kata tak sepandai bola mata dalam menyampaikan ekspresi.
Andai bisa kau tatap mataku saat ini, kau akan lihat betapa bulat keseriusanku.
Satu-satunya cara mendapatkanmu – yang baik – adalah dengan memantaskan diri
untuk menjadi yang baik pula. Maka berikan aku kesempatan sampai datang waktunya.

Comments
Post a Comment