Tujuh Sentimeter

the_valley_v_2_by_nuahs_1-e9b7e7

Punggungguku merebah di hamparan rumput. Kujadikan lenganku sebagai bantalan kepala. Sepoi angin memimpin himne ilalang yang bergoyang dengan senandung syahdu – membelai lembut tubuh yang sedang mencari ketenangan ini. Dari dulu aku selalu menikmati suasana bukit ini.

Kumanjakan mataku menikmati jagat semesta. Pemandangan perbukitan malam hari memang indah, tapi jauh lebih menawan apa yang kutatap saat ini di atas sana. Kilau melengkung yang tergantung anggun di tepi langit. Sungguh bukan rembulan, karena aku sedang membayangkan sebuah senyuman.

Tujuh sentimeter, senyum itu terkembang menghiasi wajah manismu. Memberikan keteduhan pada perasaan yang telah basah kuyup. Kudengar di luar sana begitu banyak yang mengejarmu. Mereka berlomba lomba menarik perhatian agar bisa berada di sisimu. Tapi tetap saja kau begitu kaku dan enggan terbuka.

Dibalik dinginmu kau sembunyikan keindahan itu. Melengkung anggun seperti pelangi terbalik. Menghubungkan timur dan barat dengan warna keceriaan. Sejuk dirasa bagi mata yang memandangnya. Sesal di dada bila kedip menghambatnya. Tanpa kau tahu, izinkan aku menjadi pengagum rahasia. Bila punguk boleh merindukan bulan, maka tak bolehkah aku mendamba senyuman?

Orang mengenalmu sangat tertutup, lebih dari sekadar lembaran kain di kepalamu. Selangkah kaki  lain mendekat, dua langkah kau coba menjauh. Kau abaikan syair pujangga yang terlantun. Kau tutup telingamu dari degup perasaan para pengagum. Entah bagaimana orang bisa mendekatimu, sementara senyum itu masih menjadi misteri.

Rasa penasaran mendorongku menerjemahkan lengkung manis itu. Adakah yang sedang bersamamu? Siapakah pria beruntung itu? Kudengar tak ada siapapun yang berhasil mendekat. Heranku semakin menggebu hebat. Kutanyakan pada angin apa gerangan yang menyebabkanmu merekahkan senyum sipu. Lalu hembusnya membawa jawab, keberadaanku.

Benarkah? Tujuh sentimeter, kini aku yang tersipu meragu.

 

 

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!