Bangkitkan Desa Bangkitkan Bangsa

Kekayaan agraris yang terbentang di penjuru nusantara adalah karunia tersendiri bagi Indonesia. Namun wilayah pedesaan yang menunjang sektor pertanian dan perkebunan masih belum berkembang secara mapan. Sudah saatnya desa menjadi ujung tombak perekonomian. Hal yang besar berawal dari yang sederhana. Kebangkitan desa menjadi tumpuan kebangkitan bangsa.
Sutardjo Kartodikusumo mendefinisikan desa sebagai suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. Walaupun punya mekanisme pemerintahan tersendiri dan mandiri, umumnya desa masih terlabeli dengan pandangan wilayah agraris yang masih kurang sejahtera.
Sumber mata pencaharian di desa terfokus pada sektor agraris yang sangat bergantung pada kondisi alam. Lapangan tenaga kerja sempit, fasilitas kesehatan dan pendidikan minim, serta infrastruktur yang kurang memadai membuat orang berbondong-bondong melakukan urbanisasi. Pada akhirnya potensi kekayaan agraris ditinggalkan tidak terkelola. Padahal mengadu nasib di perkotaan belum tentu menjamin kehidupan yang lebih baik.
Meskipun mengalami ketertinggalan secara ekonomi, bukan berarti desa menjadi objek bantuan sosial. Upaya pengembangan desa harus harus menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat. Mental masyarakat desa harus dibentuk secara mandiri, bukan sekadar mengemis bantuan dari pemerintah.
Indonesia bisa meneladani Negara-negara yang sukses dalam mengembangkan desanya. Sejak tahun 1979 Jepang menginisiasi gerakan one village one product di prefektur Oita. Gerakan ini mendorong daya saing produk produk lokal di Jepang. Kesuksesan ini diikuti beberapa Negara lainnya seperti Thailand dan Kenya. ASEAN sendiri pun terlah meluncurkan guideline untuk mendukung gerakan tersebut.
Di Indonesia, pemanfaatan sektor agraris di pedesaan masih sangat sederhana. Sebagian besar petani hanya mengambil hasil panen untuk dijual. Padahal banyak derivasi produk yang bisa dibuat dari hasil pertanian, misalnya apel bisa dibuat jus, kripik, selai, ataupun manisan. Desa harus lebih mengenal industrialisasi produk. Proses manufaktur hasil pertanian dapat memberikan nilai tambah pada rantai prosuksi.
Dengan potensi alam dan keberagaman budaya yang ada, pedesaan memiliki potensi yang besar untuk menjadi produsen barang-barang bernilai tinggi. Tidak menutup kemungkinan produk-produk pedesaan menjadi komoditas ekspor yang akan menyumbang devisa negara. Untuk menunjang produktivitas tersebut desa harus didukung dengan akses yang memadai baik di sisi sarana prasarana maupun finansial. Masyarakat pedesaan harus mendapatkan kesempatan berkembang yang sama dengan masyarakat perkotaan.
Indonesia tidak boleh terlalu fokus untuk mengejar pertumbuhan agregat, sementara pemerataan menjadi terabaikan. Kesejahteraan harus dirasakan oleh seluruh lapisan. Untuk menyongsong kebangkitan bangsa, desa-desa dapat menjadi andalan terdepan.
gambar dari sini
Comments
Post a Comment