Embun Pagi Ini
Azan berkumandang. Tapi di luar sana. Ayam berkokok kencang.
Tapi tak kudengar. Beton kamarku cukup tebal untuk membungkam keramaian. Atau kupingku
yang terlalu bebal menerjemahkan gelombang suara. Aku menggigil saat semua
memanggil.
Aku bangun. Tentu saja. Seperti biasanya. Sekadar mematikan
alarm handphone yang telah berdering untuk
ketigakalinya.
Baiklah, pada akhirnya aku harus bangun. Kaki tergeret
beranjak, tapi tak sampai di rumah-Nya. Cukuplah menjejak jengkal di sepetak lapak
untuk bersujud. Sekadar menggenapi satu dari lima yang kelak dituntut.
Takbir dan salam tertangkup pada kesadaran tipis, bahwa
jungkir balik telah berakhir. Segala di antaranya memekat gelap. Aku bak pengarung
angkasa yang bergerak melalui lubang cacing, menembus ruang hampa yang
menghubungkan satu titik dengan titik lain.
Jangan
tanya tuma’ninah, aku menggelar sajadah hanya untuk kemudian bisa merebah. Yang
khusyuk hanya mata, yang lurus hanya telunjuk. Segalanya habis tertelan kantuk.
Entah bagaimana aku berpindah dari rukuk ke rukuk.
Sujud
menuju sujud, kujatuhkan kepala yang terasa semakin berat saja. Terhampar kasur
yang begitu menggodaku untuk segera menolehkan salam. Tanpa jemari yang mengeja
dzikir, tanpa bibir yang membisik doa. Aku yang terpejam kembali, ditatap heran
embun pagi ini.
lenteng, 22/5/16
gambar dari sini

😠gyaaa! Lalu solusinya gimana kak?
ReplyDeletebukan dukun, jadi ndak ngasih solusi. wkwk
Delete