Menunggu Pagi
Aku terjaga menghabiskan malam, membersamai benda langit
yang menolak tertelan gelap. Lengang, tak ada yang berani menantang sunyi, tak
terkecuali lembar daun yang enggan bergesekan. Kusibak selimut udara yang
menggenapi ruang. Dalam sepetak kecil kamar itu, kusangga badan di atas kaki
mungil. Jemariku mengkerut kedinginan.
Bukan syair bukan puisi, bibirku membisikkan bait-bait
sesengguk. Aku sadar bahwa terkadang rasa tak perlu disampaikan dengan
kata-kata. Ragaku ingin menggapai, tapi dayaku hanya sebatas tangkup tangan di
depan dada. Tak mampu menatap, aku hanya menghadapkan wajah.
Bisakah kau dengar? Bak jantung yang tak pernah berhenti,
perasaanku terus berdegup – memompa energi ke seluruh tubuh untuk hidup.
Tanpanya aku keronta, tanpanya aku lunglai. Cinta membawa candu di
lorong-lorong nadi. Menyebar ke semesta tubuh yang terus menagih. Di sela hela,
nafasku memburu hirup rindu.
Kau tahu jelas. Aku memang berharap, seperti ilalang kering
yang menatap awan mendung. Namun harapan itu juga sama dalamnya dengan
kepasrahanku, seperti air yang rela jatuh kapan saja dilepas langit. Hujan atau
tidak, aku tetap di situ. Barangkali untuk menghabiskan waktu bersama rumput yang
bergoyang.
Aku terduduk, memanjakan lutut yang ingin menyelaraskan diri
pada tarikan bumi. Kutoleh kanan dan kiri, tak yakin siapa sebenarnya yang
kucari. Kesendirian menawarkan kebijaksanaan, untuk mengenal yang sebenarnya
selalu ada.
Kupersilakan mataku berkedip, agar air yang sedari tadi
terbendung bisa menemukan jalannya untuk jatuh. Limpah ruah perasaan
terwakilkan pada tetes penyesalan. Melunturkan topeng kenaifan yang tebal
menutup muka. Boleh jadi selama ini aku tak mengenali wajahku.
Tak perlu kuseka. Biarkan ia meninggalkan jejak sebagaimana
mestinya. Jika mata air adalah sumber kehidupan, air mata adalah sumber
ketulusan. Terasa sejuknya selagi mengalir.
Aku terjaga sampai pagi datang. Walau terasa nyaman untuk
memejamkan mata, aku menolak kembali ke mimpi yang fana. Biarkan aku menunggu.
Rona fajar terlalu indah untuk dilewatkan. Lagipula, mereka bilang aku punya
waktu tidur yang lebih lama nanti.
kapuk, 25/4/16
gambar dari sini

suka mas,
ReplyDeletefeelnya selalu dapet,
gmn sih caranya dpet inspirasi kyk gitu?
ato wujud dr pengalaman ?! :D
terima kasih :)
Deletesaya nulis seadanya aja, yang kepikiran. :D
hacep, pi, haha. anak ipa tapi ahli ekonomi berjiwa nyastra dan bisa ngedance ^^
ReplyDelete