Esok
Kenapa harus kusapa esok sementara
kau tak di situ?
Kenapa harus kuberanjak bersama waktu
bila kau bukan masa depanku?
Biarkan aku berdiri mematung di balik
bayangmu saat ini.
Di manakah letak keadilan? Jika untuk
bersama menyaratkan persetujuan yang sama, seharusnya tak ada yang berhak
memisahkan secara sepihak.
Dari langkah yang selama ini selalu
sejajar, kini jejak merentang jarak. Janji yang dulu diikatkan pada kelingking
kecil itu telah lepas, menyisakan jemari rapuh yang menggenggam kekosongan. Aku
hanya bisa menatap punggungmu menjauh dan perlahan menghilang.
Sebenarnya, telah kusiapkan diriku
untuk kata selamat tinggal. Walau kulatih dan kuulang berkali kali, sepenggal
frase itu tak pernah benar benar terucapkan. Jika membayangkannya saja sudah
menguras air mata, betapa kering keronta dadaku bila mendengarnya.
Dengar, terlepas dari di sisi manapun
kau berada, aku tak pernah menganggapmu masa lalu. Sebab garis waktu terlalu
fana untuk merangkai cerita kita. Biarkan ilalang menjadi saksi bisu, bahwa kita
pernah merebah di padang rumput dan menatap langit. Kita percaya tidak ada yang
namanya awan yang terlewat. Hanya saja bumi mengulur waktu untuk membuat
pertemuan laiinya.
Andaikan bisa, ingin kumeniti
pematang di tepian fajar. Kemudian kutenggelamkan kembali mentari agar hari tak
pernah berganti. Sebab esok kau tak membuka mata dan lusa tidurmu semakin lelap.
Lantas kepada siapa lagi kuucapkan selamat pagi?
Memang aku tak pernah mengerti konsep
keadilan. Jika kini kau tidur memeluk malam dengan senyum menawan, mengapa pula
harus kutangisi batu nisan?
kapuk, 5/4/2016
gambar dari sini

mas pyan,, suka deh baca tulisan-tulisannya,,
ReplyDeleteditunggu karya lainnya mas,,
salam kenal :D
terima kasih, selamat menikmati...
Deletesalam kenal juga :)