Pekarangan Malam
Kunang-kunang tak pernah berjanji untuk selalu bersinar menghiasi
pekarangan malam. Sehingga tak ada pengganti bintang yang bisa diharapkan,
untuk sekadar menyadarkanmu, bahwa setitik kilau gemerlap begitu anggun di
tengah kegelapan. Dan kau selalu tersenyum karenanya.
Jika setiap bintang di angkasa mewakili jiwa yang masih
bernafas di bumi, kau tak akan menemukanku menggantung manja. Karena aku lebih
memilih menjadi langit malam. Agar saat kau memandang ke atas sana, kau dapat
menikmati pijar kerikil angkasa yang menerangi wajah teduhmu. Aku senang
melilhatmu menengadah dan tersenyum, walau tak benar-benar sedang menatapku.
Malam adalah definisi dari kelam yang mendamaikan. Jembatan
antara kemewahan senja dan kelembutan fajar, dengan gemerlap kebijaksanaan di
sepertiga ujungnya. Kemudian ditutup dengan sepasang jeda yang lebih berharga
dari dunia seisinya.
Kuharap kita bisa menjejakkan kaki bersama di sana.
Mensyukuri keindahan kilau kejora yang dititipkan sementara. Selanjutnya terjun
dalam pasrah sungkur, atas perihal yang telah kita usahakan dengan sepenuh daya.
Jika terik siang adalah tempat memeras peluh. Maka malam
diciptakan untuk melindungi layaknya pakaian. Ia menyediakan waktu untuk memejamkan mata dan
melepas lelah. Ia juga memberikan kesunyiaan yang cukup untuk membuka
kesadaran, bahwa ada yang sedang berbisik mendoakan.
Sayangnya, malam tak memiliki sudut, tak juga mempunyai
tepi. Karenanya terkadang aku bingung di mana kuharus menyimpan rindu. Adakah
kedip genit bintang yang dapat membantuku sampaikan salam?
Bicara soal bintang, aku tak mengerti bagaimana sebuah rasi
digambarkan. Ia memang membantu pelaut untuk membaca arah mata angin dengan
mudah. Hanya saja tak pernah kutemukan pola rasi yang bisa mengutarakan arah
perasaan.

:")
ReplyDelete:-)
DeleteBikin buku piii
ReplyDelete