Mimpi yang Tak diinginkan



Salahkah aku bila hadir dalam mimpi yang tak kau inginkan? Sedangkan tak pernah kau sadari doa yang kuselipkan di celah jendela kamarmu, agar malam menyelimutimu dalam ketenangan. Maka tak sedikit pun terbersik hayal untuk datang dan mengusik engkau yang terpejam nyenyak.

Kau tatap aku kelam dengan ekspresi yang tak kumengerti, seakan-akan aku lah penyebab  gores pada hati yang enggan kau tunjukkan. Lantas bagaimana kuutarakan pembelaan bahwa tanganku tak pernah becus menyayatkan luka?

Andaikan aku terlahir dengan dua tanduk di kepala dan aura kegelapan yang menyelimuti, menyakitimu adalah hal terakhir yang terpaksa kulakukan. Sesosok monster pun bisa menyimpan hati selembut ufuk timur dan dada seluas samudra. Biar kubuktikan bahwa ini bukan sekadar pemanis hikmah dongeng pengantar tidur.

Sungguh tak sampai hati bila kuharus melihat butir air matamu mengalir jatuh. Tak juga kupunya daya untuk menyeka apa yang tak pernah bisa ditarik kembali oleh mata. Hanya kurelakan wajahmu dibasahi sesengguk untuk tangis kebahagiaan.

Jarak yang kita rentangkan, sapa yang kita tanggguhkan, tak lebih dari sebatas jeda pada ujung yang berakhir sama. Maka tak perlu ada prasangka yang bak setitik nila, memperkeruh kolam ketulusan. Yang kita butuhkan adalah tawas penjernih dalam sebongkah kepercayaan. 

Segerelah bangun dari bunga tidurmu. Hilangkan kabut yang menyesatkan pandangan dan sambut rinduku yang marum bersama langit subuh. Sengaja kusimpan embun di sela-sela abai. Supaya kelak dalam galian kenangan, bisa kau temukan sejuknya perhatian.


Aku tak mengejar apapun, tak juga mengharapkan apapun, selain pantulan senyum di secangkir teh yang kau seduh setiap pagi. Jangan cari aku lagi dalam mimpimu, aku hidup lebih nyata dari semerbak melati yang biasa kau celupkan itu.


pare, 16/01/15

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!

4th USLS #7: Senyum Perpisahan