IPK BUKAN SEGALANYA: Mengapa Terkadang Kita Lebih Memilih Rapat Organisasi daripada Mengerjakan Tugas Kelompok?
Mahasiswa memiliki kewajiban
mutlak untuk mengikuti rangkaian kegiatan akademis, mulai dari pembelajaran di
kelas, pengerjaan tugas, hingga ujian di tiap semesternya. Namun bagi penulis
dunia perkuliahan bukan melulu soal
menjaga kehadiran tatap muka dan berupaya sekuat mungkin mendongkrak IPK.
Banyak hal bisa dilakukan selama menempuh pendidikan di bangku kuliah, termasuk mengikuti hiruk pikuk kegiatan
organisasi.
Organisasi dapat dijadikan tempat
yang tepat untuk mengembangkan diri, mengaktualisasikan keinginan, serta
menyalurkan kontribusi. Mereka yang ingin meningkatkan jiwa kepemimpinan, public speaking, beserta networking skill lainnya akan
mengerumini stand pendaftaran saat
musim perekekrutan terbuka dimulai. Bak pasar yang tidak ada habisnya, banyak
organisasi atau kepanitiaan yang diselenggarakan kampus.
Telah kita semua ketahui bahwa
normalnya tidak ada insentif material yang menjadik penarik mahasiwa untuk
bergabung dalam organisasi (karena masih belum berada dalam dunia kerja, dalam
tulisan ini mari kita asumsikan insentif paling berharga bagi mahasiswa adalah
nilai atau IPK). Namun tidak jarang kita melihat fenomena di sekitar kita di
mana kegiatan organisasi lebih diprioritaskan dari pada kegiatan akademis yang
sudah pasti insentifnya (berupa nilai). Jika kita coba perhatikan, terkadang
kita lebih memilih untuk hadir dalam sebuah rapat rutin organisasi daripada
berkumpul bersama teman untuk mengerjakan tugas kelompok. Pengerjaan tugas
pastinya memengaruhi nilai yang akan kita dapatkan di perkuliahan, lantas
mengapa kita lebih senang untuk rapat? Bagaimana pula ilmu ekonomi menjelaskan
hal ini?
Dualisme Norma
Sebelum membahas studi kasus di
atas secara mendalam, mari kita kupas pembahsan mengenai prilaku ekonomi
terlebih dahulu. Dalam teori ekonomi mirko, preferensi menunjukkan kepuasan
setiap orang. Dalam satu set basket
pilihan, setiap orang bisa memiliki preferensi yang berbeda-beda. Hal ini yang
menyebabkan kombinasi pilihan setiap orang akan berbeda-beda untuk mendapatkan
kepuasan dengan fungsi yang berbeda pula. Ada mahasiswa yang sangat rajin
mengikuti kegiatan akademis dengan harapan mendapatkan nilai yang baik. Namun
ada pula mahasiswa yang gemar sekali ikut kegiatan organisasi, walaupun tanpa
dibayar dan tanpa mendapatkan nilai.
Dalam bukunya, Predictably Irrational: The Hidden Forces
that Shape Our Decisions, Dan Ariely
menjelaskan bahwa manusia hidup dalam dua dunia; dunia yang
berlandasakan noram sosial (social norms)
dan dunia yang berlandaskan norma pasar (market
norms). Norma sosial secara natural ada pada adat istiadat, semangat gotong
royong, dan upaya saling membantu. Biasanya norma sosial memberikan kehangatan
yang tulus bagi sesama, karenanya tidak dibutuhkan imbal jasa. Hal ini bisa
kita lihat saat kita meminta tolong teman kita untuk membuat poster selebaran
atau mengedit video untuk acara kepanitiaan. Di lain sisi, norma pasar memiliki
perbedaan yang sangat signifikan. Tanpa basa basi setiap transaksi yang terjadi
dengan landasan norma pasar akan menuntut timbal balik, baik berupa harga,
upah, sewa, bunga, atau perhitungan cost-benefit
lainnya. Inilah mengapa mau atau tidak mau kita harus membayar saat memesan
baliho publikasi di sebuah percetakan.
Dalam contoh lain yang lebih
ekstrim, misalkan di sebuah date malam
minggu, pasangan anda memberikan sebuah kecupan manis di pipi anda. Lalu jika anda
coba bertanya, “Berapa yang harus saya bayar untuk mendapatkan itu?” Sembari
mengeluarkan uang di dompet anda meneruskan, “Apakah seratus ribu cukup? Ah,
mungkin perlu ditambah seratus lagi.” Jika itu benar-benar Anda lakukan, tidak
lama setelah itu dijamin pipi anda akan memerah dengan kecupan yang lain. Pasangan anda dengan tulus memberikan kecupan
tersesbut berlandaskan norma sosial, maka tidak seharusnya anda mencoba
bertransaksi dengan norma pasar. Jika tidak bisa memberi hadiah balasan, senyum
dan ucapan terima kasih sudah lebih dari cukup.
Penelitian Empiris
Sebuah penilitain dilakukan oleh
Dan Ariely (professor di University of Duke) dan James Heyman (professor di University
of St. Thomas). Mereka merancang sebuah percobaan eksperimental yang dapat
menjelaskan bagaimana norma sosial dan norma pasar bekerja. Dalam penelitian
ini responden diminta untuk menggeser sebuah lingkaran ke dalam semacam kotak
sampah di komputer. Sesampainya lingkaran tersebut pada kotak sampah, lingkaran
tersebut akan hilang dan muncul kembali di tempat semula. Para partisipan
diminta melakukan itu sebanyak mungkin dalam waktu lima menit. Percobaan ini
akan mengukur labor output – usaha
yang mau mereka keluarkan untuk mengerjakan tugas tersebut.
Lantas bagaimana membedakan kedua
landasan norma tersebut? para partisipan akan dibagi menjadi tiga kategori,
yakni: pertama, mereka yang diminta
secara sukarela mengerjakan tugas tersebut, kedua,
sebagian yang diberi insentif berupa uang lima dolar, dan grup ketiga, mereka yang mendapatkan uang
namun dengan jumalh yang jauh lebih kecil (50 sen). Partisipan yang tidak
diberi uang diharapkan mencerminkan bagaiman perilaku yang muncul berdasarkan
norma sosial sedangkan mereka yang mendapatkan uang dianggap akan berprilaku
dengan landasan norma pasar.
Mereka yang mendapatkan insentif
lima dolar mampu memindahkan rata-rata 159 lingkaran. Sedangkan dengan
pembelian uang yang lebih rendah, mereka yang mendapatkan 50 sen hanya bisa
memindahkan 101 lingkaran. Sekilas tampak ada korelasi postif dari insentif
dengan kinerja, talu bagaimana kah dengan partisipan yang tidak diberi uang
sama sekali? Secara mengejutkan mereka justru mampu memindahkan rata-rata 168
lingkaran – melebihi paritisipan yang dibayar tinggi.
Ketidakadaan uang membuat mereka
yang tidak dibayar bekerja berasaskan norma sosial – niat baik yang tidak
tercampur kepentingan tertentu. Sedangkan iming-iming uang membuat orang
bekerja berdasarkan norma pasar yang diwakilkan oleh insentif berupa uang.
Semakin besar insentif yang diberikan semakin besar pula outcomes dari
pekerjaan orang tersebut. Namun bagaimanapun juga kinerja orang yang bekerja
berlandaskan norma sosial tidak kalah dari mereka yang mengharap imbalan,
bahkan bisa melebihi.
Rapat, nugas, atau belajar?
Kembali pada topik awal,
penelitian tersebut dapat menjadi komparasi yang tepat. Rapat organisasi
diibaratkan seperti kategori eksperimen pertama; kita tidak mendapatkan
insentif (nilai) apapun tapi rela melakukannya atas nama niat baik (social norms). Sedangkan eksperimen
ketiga dapat dianalogikan sebagai pengerjaan tugas kelompok yang mendapatkan
porsi nilai yang relatif kecil. Lalu ketori ketiga bisa dianalogikan untuk
belajar menghadapi ujian semester yang memilki porsi niai besar. Walaupun tidak
sama persis, setidaknya penelitian tersebut dapat menjelaskan pola umum dalam
tinjauan kita.
Pada umumnya proporsi penilaian
untuk matakuliah cenderung berat pada ujian yang bisa mencapai 60 sampai 70
persen untuk UTS dan UAS. Sedangkan sisanya biasa diisi dengan nilai keaktifan,
kehadiran, serta tugas. Sedangkan tugas sendiri dibagi menjadi individu dan
kelompok, maka porsi penilaian tugas kelompok menjadi sangat kecil.
Jika kondisi perkuliahan
benar-benar seperti itu maka labour
output kita untuk mengerjakan tugas kelompok akan sangat rendah. Ditambah
lagi terdapat kecenderungan menjadi free
rider – yang mengasumsikan bahwa
teman kelompok akan terus mengerjakan dengan atau tanpa kita – semakin membuat kita enggan untuk menghiraukan sms
ajakan berkumpul dari ketua kelompok.
Alih-alih ikut mengerjakan tugas
kelompok, kita justru malah pergi ke ruang sekretariat organisasi untuk rapat
rutin. Di sini berarti norma sosial yang mendorong kita bergerak. Walaupun kita
sadari tak ada insentif material kita dapatkan, kita sudah cukup senang
melakukannya, sama senangnya dengan orang yang memberikan kecupan pada
kekasihnya.
Lalu bagaimana bila ajakan untuk
rapat dan mengerjakan tugas memenuhi noifikasi handphone anda saat beberapa hari sebelum UAS? Dengan kekuatan
norma pasar yang lebih besar sepertinya anda akan mulai mencari alasan-alasan
yang pas untuk bisa menghindar. Lalu anda akan kembali meja belajar dan
menghabiskan beberapa chapter yang
belum terkejar. Namun bila anda adalah aktivis sejati, norma sosial akan mendorong
anda untuk menyempatkan waktu, jangankan untuk sekedar rapat, turun aksi ke
jalan pun akan anda lakukan.
Comments
Post a Comment