Di mana doaku?
Tadi pagi aku berdoa. Aku penasaran apakah doaku telah sampai pada-Mu.
Kucari-cari website untuk melakukan pengecekan pengiriman barang, ternyata tidak ada barang jenis ghaib layaknya doa. Padahal kan banyak orang yang mengirimkan doa setiap hari. Aku juga tidak punya nomer resi untuk dimasukkan ke kolom pencarian. Semestinya para kurir bisa lebih serisus menangani hal ini.
Aku benar-benar ingin tahu kabar pengiriman doaku. Sudah sampai mana ya? Andaikan ada matakuliah yang menjelaskan identifikasi kelajuan dan posisi doa atau seminar mekanisme transmisi doa pasti sudah aku ambil. Saking penasarannya aku berharap ada reality show ekspedisi pencarian doa. Tak akan kulewatkan satu episode pun.
Mungkin lain kali aku harus menempelkan penyadap pada doaku agar aku bisa melacaknya lewat GPS. Mungkin juga aku bisa memakai teropong bintang untuk mengikuti geraknya menuju langit. Atau barangkali harus kukirimkan lewat Whatsapp agar tahu apakah doaku masih pending, delivered, atau sudah read. Bagaimana kabar doaku ya? sedang bersama doa-doa yang lainkah? Menunggu antrian? sedang tersangkut atau malah tersesat? Atau sebenarnya panjatan harapan yang kuucap tak pernah berbuah doa?
Ya Allah, jika doaku hanya menjadi busa dibibir tolong beritahu aku. Apakah ada nila setitik yang membuyarkan suci badan dan tempat - sehingga doaku lenyap setelah terucap? Dosa apakah yang mengganjal doaku hingga ia tak mampu melesat naik menuju arsy-Mu? Beritahu aku ya Rabb. Andai saja aku tahu pin BBM-Mu, pasti sudah aku PING berkali-kali, entah bagian langit mana yang akan bergetar nanti.
Sungguh aku tak berbohong dan Kau pun pasti tahu, telah kuhadapkan wajahku ke arah qiblat, kuangkat kedua tangan, kulirihkan suaraku dengan lembut, tak lupa kuucap rasa syukur pada-Mu dan shalawat pada Nabi di sebelum dan sesudah doa - seperti yang diajarkan pak ustadz di masjid komplek tempo hari. Tidakkah doaku sampai pada-Mu?Apakah aku kurang khusyuk dalam menyebut asma-Mu?
Aku memang kurang tahu kapan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa, aku berdoa saat aku ingat saja, saat perlu saja. Tapi apakah langit tak mau terbuka saat doaku mengetuk pintu-pintunya? Apakah aku harus bersusah payah bangun di sepertiga malam atau menunggu hujan turun dulu baru berdoa pada-Mu? Temen-temanku bilang Engkau Maha Ada - kapanpun, di manapun selalu mengawasi hamba-Mu.
Walaupun sedikit berbumbu kepura-puraan, sudah kububuhkan rasa takut dan penuh harap saat merapalkan bait-bait itu. Kutumbuhkan keyakinan bahwa Engkau pasti mengabulkan doaku, namun bukan mendikte-Mu atas permintaan yang bahkan belum tentu kupahami. Aku akan (mencoba) rela dengan keputusan-Mu atas doaku. Tapi setidaknya beri aku tahu bagaiamana kabar doaku. Aku benar-benar ingin tahu sampai di manakah ia.
Tadi siang aku berusaha menelpon-Mu, aku ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dalam pikiranku. Sayangnya, tidak ada nomor-Mu di kontak handphone-ku. Kupencet 1-0-8, tempat orang-orang biasa menanyakan nomor telepon.
"Halo. Selamat siang"
"Iya, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini mbak, bisakah saya menanyakan nomor telepon?"
"Iya silakan, nomor telepon apa ya?"
"Saya ingin tanya nomor Tuhan, apa mbak punya?"
"Maaf, kami hanya menyediakan nomor telepon fasilitas publik atau nomer yang umum dihubungi orang-orang"
"Lah bukannya orang-orang setiap hari berusaha menghubungi Tuhannya? Saya ingin menanyakan pada Tuhan mengenai doa saya. Doa juga fasilitas publik kan? Saya ingin tahu doa saya sampai....."
tut...tutt..tuuuutt....
Kucoba googling juga percuma. Ada satu juta hasil pencarian tapi tak satu pun memberikan nomer yang bisa kuhubungi. Setelah kupikir-pikir juga percuma jika punya nomor-Mu. Menelpon ke luar negeri saja sudah mahal. Apapun providernya, aku tak akan sanggup membayar tagihan untuk sambungan langsung jarak bumi-langit (SLJBL).
Ahh, tunggu dulu. Bukankah Engkau Maha Dekat? melebihi dekatnya leher pada urat nadi? Dan Engkau juga selalu tahu apa yang ada pada hati hamba sepertiku, bukan? Ya Allah, mereka bilang Engku Maha Mendengar. Jadi walaupun tadi pagi aku hanya berbisik pelan, Engkau pasti tahu apa yang kuucap, bukan?
Aku tidak neko-neko, yang kuinginkan sangat sederhana. Aku ingin menemui-Mu, ya Rabb.

This comment has been removed by the author.
ReplyDelete:")
ReplyDeleteApa kabar doaku? :'(
ReplyDelete