Kesal
Percuma sudah hangat mentari pagi ini,
saat kutatap kau yang diam – membiarkan kicau burung ditelan angin. Apa
susahnya membalas rekahan sinarnya dengan rekahan senyum yang serupa?
Sepertinya beramah-ria sudah menjadi barang mahal.
Buyar sudah cerah-ceria pagi ini, saat
kutanya kabar, kau hanya membeku. Apa susahnya berbasa-basi dan sekadar
mengatakan baik-baik saja? Aku sulit mengerti orang yang memperumit salam-sapa.
Saat kusodorkan potongan biskuit keju
yang biasanya membuatmu girang, lagi-lagi kau bertingkah dingin. Agaknya kesal
apa yg menyumpal mulutmu? Sehingga kau lewatkan semua ini dengan masam.
Kembalikan aku pada pagi kemarin. Saat
ada sapa yg bisa kubalas ramah. Bukan menenggak kopi dengan tatapan murammu.
Cukup secangkir itu saja yang pahit, jangan kau buat yang lain juga.
Berhentilah menatapku kesal. Aku bukan
karung tinju: bongkah tak berdaya yang kau gantung sendiri, lalu kau jadikan
sasaran atas endapan amarah. Pukul aku tapi berikan alasan, agar aku tahu mengapa
kau mengangkat lengan.
Sampaikanlah, terserah kau ingin aku
merespon apa. Akan ku-iya-kan bila kau hanya ingin didengar. Katakan saja bila
ada yang mengganjal. Air yang menggenang dapat menimbulkan endapan. Biarkan ia
mengalir, sekeruh apapun sungai akan jernih bila kau mau membawanya ke ujung
muara.
Sampaikanlah, jika tidak kepadaku, pasrahkan
pada aliran yang lebih kuat arusnya. Selipkan itu pada bait-bait doa yang kau
panjatkan pada tangga langit. Yakinlah selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Bahkan
terkadang kemudahan datang melalui hal yang tidak disangka-sangka.
Aku tidak berharap banyak. setidaknya kau
bisa balas sapaku esok pagi dengan senyum, bukan yang biasa, tapi yang biasanya:
merekah manis hingga ke ujung bibir.

wih gilak mantep bgt bang(y)
ReplyDeletewah ampun bang
Delete