Hujan Sore Itu
Banyak orang yang tidak suka hujan. Lihat saja di
sekelilingmu, mereka menyerapah pada rintik air yang tidak tahu menahu urusan
mereka. Jemuran yang gagal kering, rapat yang tertunda, lantai beranda yang
becek, dan banyak lagi alasan untuk menyalahkan hujan. Adapula yang sudah
menggertu saat mendung mulai merambati lapis-lapis awan. Padahal mendung belum
tentu hujan, bukan?
Aku juga tidak suka hujan, bahkan sejak aku kecil. kuhabiskan
masa kanak-kanak menatap teman-temanku berhujan-hujanan dari balik jendela
rumah. Kupikir menghabiskan waktu dibawah guyuran air hanya membuang-buang
waktu. Mandi saja kalau ingin basah. Lagipula tubuhku saat itu memang rentan
sakit. Menyeduh susu coklat sepertinya lebih menyenangkan – dan tentunya
menghangatkan.
Biar kuberitahu, aku memang benci hujan, tapi tidak sampai sore
itu. Bagaimana mungkin aku membenci hujan bila rintiknya mempertemukanku dengan
dia. Dari sekian banyak tempat berteduh, langkah kami menentukan satu titik tempat yang sama.
Aku tepat datang di sebuah pelataran toko saat ia baru saja menyelesaikan lari kecil di jalan sempit itu. Aku sedikit bergeser untuk memberinya tempat. Dan bersamaan dengan jatuhnya butir air yang entah kesekian-juta-kalinya aku memberanikan diri memulai percakapan.
Aku tepat datang di sebuah pelataran toko saat ia baru saja menyelesaikan lari kecil di jalan sempit itu. Aku sedikit bergeser untuk memberinya tempat. Dan bersamaan dengan jatuhnya butir air yang entah kesekian-juta-kalinya aku memberanikan diri memulai percakapan.
“Hai, kau bekerja di dekat sini?” Aduhai, kalimat pembuka
macam apa itu. Aku mengutuk diriku sendiri yang bingung memulai percakapan.
“Begitulah, ada toko roti di ujung sana. Bagaimana
denganmu?”
“Ohh…” Aku berpura-pura tidak tahu. Nyatanya dalam beberapa pekan
ini hampir setiap pagi aku memperhatikannya masuk ke dalam toko milik keluarga
Pak Tan itu.
“Aku bekerja di toko kaset di ujung jalan sana. Oiya, namaku
Ragil.” lanjutku
“Aku Tina” Ia menoleh sekelebat.
Tangannya masih sibuk menyibak butir-butir air yang jatuh di
baju kerjanya. Kami berkenalan tanpa bersalaman. Tapi tahu namanya sudah cukup
menggembirakan bagiku, setidaknya aku tahu apa yang harus kusebut dalam doaku
nanti.
“Kau suka musik?”
hampir saja aku tak mendengar pertanyaannya. Bukan karena suara hujan yang
semakin deras, tapi ada gemuruh yang lebih ricuh dalam hatiku. Barangkali
itulah pertama kalinya aku menaruh perasaan pada seorang perempuan.
“Ya, sepertinya itu satu-satunya alasanku tahan bekerja di
toko itu.”
“Kau beruntung bisa bekerja di tempat yang kau suka”
“Kenapa? Kau tidak suka membuat roti?”
“Bukan, aku malah sangat senang membuat roti. Hanya saja
suatu saat aku berharap bisa memiliki toko sendiri dan menjual racikan adonanku
sendiri”
“Kau benar. Aku juga tak ingin selamanya menjual album orang
lain. Ada waktunya kita membuat karya kita sendiri”
Itu pertama kalinya kami bercakap-cakap. Tidak banyak namun
sangat berkesan. Jika ada satu momen yang bisa kuulang terus-menerus seperti
putaran kaset yang kujual, maka akan kurekam hujan sore itu beserta
rintik-rintik air yang pernah kubenci.
Hujan yang disertai angin saat itu membuat udara sangat dingin; ia melipat tangannya di perut sedangkan aku menggosok-gosok telapak tangan. Tak tahan melihat ia menggigil hingga bergemenletuk gigi, aku meminjamkannya jaket. Hembusan angin membelai badanku yang hanya tertutupi kemeja tipis. Percayalah saat itu aku tidak lagi kedinginan. Hujan sore itu mengajarkanku, ada kehangatan lain selain susu coklat.
Jetis, 6/1/2015
Hujan yang disertai angin saat itu membuat udara sangat dingin; ia melipat tangannya di perut sedangkan aku menggosok-gosok telapak tangan. Tak tahan melihat ia menggigil hingga bergemenletuk gigi, aku meminjamkannya jaket. Hembusan angin membelai badanku yang hanya tertutupi kemeja tipis. Percayalah saat itu aku tidak lagi kedinginan. Hujan sore itu mengajarkanku, ada kehangatan lain selain susu coklat.
Jetis, 6/1/2015

Comments
Post a Comment