Kesal
Percuma sudah hangat mentari pagi ini, saat kutatap kau yang diam – membiarkan kicau burung ditelan angin. Apa susahnya membalas rekahan sinarnya dengan rekahan senyum yang serupa? Sepertinya beramah-ria sudah menjadi barang mahal. Buyar sudah cerah-ceria pagi ini, saat kutanya kabar, kau hanya membeku. Apa susahnya berbasa-basi dan sekadar mengatakan baik-baik saja? Aku sulit mengerti orang yang memperumit salam-sapa. Saat kusodorkan potongan biskuit keju yang biasanya membuatmu girang, lagi-lagi kau bertingkah dingin. Agaknya kesal apa yg menyumpal mulutmu? Sehingga kau lewatkan semua ini dengan masam. Kembalikan aku pada pagi kemarin. Saat ada sapa yg bisa kubalas ramah. Bukan menenggak kopi dengan tatapan murammu. Cukup secangkir itu saja yang pahit, jangan kau buat yang lain juga. Berhentilah menatapku kesal. Aku bukan karung tinju: bongkah tak berdaya yang kau gantung sendiri, lalu kau jadikan sasaran atas endapan amarah. Pukul aku tapi berikan alasan, agar...