Tongkat Estafet Pembangunan Ekonomi Indonesia
Senin 20 Oktober 2014 menjadi hari dilantiknya presiden ke-7
Indonesia yang dipilih rakyat secara langsung. Tongkat estafet kepemimpinan negara
berpindah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Joko ‘Jokowi’ Widodo.
Disaat itu pula tugas, tanggung jawab, dan amanah besar untuk membangun
perekonomian bangsa dilimpahkan kepada sosok yang menjadi harapan baru
Indonesia kini. Lantas apakah Jokowi mampu menjawab harapan tersebut?
Menilik kepemimpinan SBY sepuluh tahun terakhir dari sisi
ekonomi, terdapat beberapa hal yang perlu diapresiasi. SBY berhasil menjaga
pertumbuhan ekonomi stabil dengan kisaran 4%-6,5% setiap tahunnya. Bahkan di saat
krisis finansial pada 2008, di mana AS dan Negara-negara Eropa terpuruk dengan
pertumbuhan negatif, Indonesia mampuh tumbuh 4,6%. Sektor riil Indonesia
digadang-gadang berperan secara fundamental menjalankan roda perekonomian dan
mempertahankan diri dari krisis.
Selain itu pengangguaran juga menurun secara drastis. Data
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingakt pengangguran terbukka turun dari 9,86%
(2004) menjadi 5,92% (2013). Ini berarti penyerapan tenaga kerja berjalan cukup
optimal. Selanjutnya Jokowi harus mampu membawa kuantitas tersebut kearah
kualitas untuk meningkatkan produktifitas perekonomian.
SBY juga mampu menurunkan tingkat kemiskinan secara tajam
dari 16,66% pada 2004 hingga 11,37% pada 2013. Namun masih menjadi catatan
bahwa penduduk yang telah melewati garis kemiskinan (konsumsi dua dolar per
hari) masih rentan untuk jatuh miskin lagi. Merupakan hal yang esensial untuk
memperhatikan jaminan sosial agar mereka aman dari risiko finansial, kesehatan,
maupun ketenagakerjaan.
Dibalik positifnya beberapa indokator makro ekonomi di atas,
SBY sebenarnya meninggalkan masalah yang cukup besar. Ketimpangan di Indonesia
semakin memburuk; orang kaya semakin kaya, orang miskin tidak mampu mengejar
ketertinggalan. Koefisien gini semakin melebar dari 0,363 Di tahun 2005 hingga
0,413 Di tahun 2013. Angka ini merupakan kondisi terburuk sejak 50 tahun silam.
Hal ini menandakan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tidak mengarah pada
kesejahteraan rakyat secara menyeluruh, sehingga hanya dinikmati segelintir
orang.
Stabilitas pertumbuhan ekonomi, reduksi pengangguran, dan
pemeberantasan kemiskinan merupakan prestasi SBY yang harus terus dijaga dan
diingkatkan. Namun mendorong pemerataan kesejahteraan menjadi hal yang tidak
dapat ditawarlagi. Jokowi harus bisa membawa perekonomian Indoensia lebih baik,
terlebih dalam memanfaatkan masa bonus demografi dan persaingan bebas layaknya ASEAN Economic Community.
Bukan lagi Surakarta, bukan lagi Jakarta, kini Jokowi
dimandatkan untuk membawa sebuah negara. Apa yang ditinggalkan SBY tidak
sebatas jabatan untuk menduduki kursi nomor satu di Indonesia, tapi ada ada
amanah yang besar untuk bisa membangun perekonomian bangsa. Joko Widodo membawa
tampuk kepemimpinan yang akan menentukan bagaimana Indonesia berjaya.
Comments
Post a Comment