Hmmm
Ingin kuberitahu suatu rahasia, bahwa aku memendam perasaan
pada seorang gadis. Sedikit demi sedikit kupahami perasaan tersebut adalah
cinta, yang nantinya kusadari bahwa cinta yang kumiliki adalah hal yang sulit
diterima. Karena kami berbeda.
***
Perasaan itu muncul beberapa tahun silam, saat aku pertama
kali bertemu dengannya. Waktu itu dia masih kecil. Aku juga belum terlalu
besar. Terlebih untuk mengerti ketertarikanku padanya. Yang kutahu hanya aku merasa
sedang bertemu seorang tuan putri kecil di negeri dongeng. Entah apa pasal,
sejak saat itu kuputuskan untuk memendam perasaan dalam diam.
Saat itu ia pergi ke desaku bersama keluarganya untuk
mengunjungi kakeknya. Aku yang warga setempat ini sedang menuju sawah untuk
membajak. Kami bertemu di seberang pematang. “Haii… selamat pagiii….” ia
mencoba menyapaku dengan ceria. Alih-alih membalas salamnya, aku justru terdiam
gagu. Kubiarkan ia lewat begitu saja. Cukup malu mengingat aku yang saat itu
sangat berantakan. Bahkan sepertinya aku lupa kalau aku belum mandi.
Setelah pertemuan itu aku cukup sering bertemu dengannya. Kami
tinggal di tempat yang terpisah cukup jauh. Ia hidup di kota sementara aku
membantu pamannya mengelola sawah di desa. Walau jarak memisahkan kami, setidaknya
sebulan sekali ia berkunjung.
Setiap kali ia datang aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Aku
yang papa ini tak seharusnya mendekatinya. Cukup bagiku untuk mendapatinya dibalut
keceriaan yang selalu terpancar dari senyumnya. Aku senang memerhatikannya
riang bersepeda di pinggir sawah. Sayangnya ia tak pernah berkunjung lebih lama dari
sepergantian mentari. Karenanya, jika satu bulan terisi tigapuluh hari, maka
kudapati diriku dua puluh sembilan hari merindu.
Suatu saat dengan malu-malu ia mendekatiku. Lalu ia
ragu-ragu menjulurkan tangannya. Kukira ia hendak menjabat tanganku. Ia malah mengusap-usap
kepalaku sebelum balik berlari mengikuti ayahnya yang sudah
memanggil-manggilnya di pintu pagar.
“Dadaaah….. kita ketemu lagi kalau sudah gede” teriaknya
menjauh sambil melambai-lambaikan tangan.
Sejak saat itu ia tak pernah berkunjung lagi. Tapi aku yakin
akan ada waktunya kami bertemu. Karena suatu saat nanti aku harus sampaikan
perasaanku.
***
Setelah sekian lama, rupanya waktu memutuskan hari ini
menjadi penutup dari kekosongan selama ini. Kali ini justru aku yang pergi ke
kota. Paman membawaku bermasa beberapa temanku. Kami bertemu di sebuah
pelataran dekat pusat kota. Ia sedari tadi di sana bersama keluarganya.
Sepertinya sedang menati sesuatu. Mununggukukah?
Sepertinya aku tak pandai belajar dari kesalahan. Lagi lagi
kami bertemu saat aku sedang lusuh. Malu rasanya dia mendapati wajahku sedang masih
kusut setelah begadang semalam. Tanpa sapa. Tanpa kata. Aku hanya mengangguk
pelan saat mata kami berpapasan. Ia masih mengenalku. Sungguh ada degup kencang
yang mencoba menumpahkan bendungan rinduku. Dan aku hanya diam karenanya.
Waktu cepat berlalu. Kini aku sudah besar sementara ia
memasuki dunia remaja. Ia tumbuh dengan anggun. Aku tak bilang ia cantik
jelita, tak juga putih bersinar, namun tak ada yang meragukan keteduhan raut
wajahnya. Ia juga tak tinggi semampai, tapi auranya membawa kehangatan.
Ditambah lagi dengan kelembutan hati yang membuat setiap orang nyaman di
dekatnya. Bagaimana aku tidak jatuh dibuatnya.
Kulihat ia jauh berubah. Dia yang dulu kekanak-kanakan kini
tampak menawan dengan rok panjangnya yang nyaris menyentuh tanah. Rerumputan di
bawah seolah-olah berusaha menggapainya namun tak pernah sampai. Sementara
matahari meredup karena sedang mengintip malu di balik awan.
Tiba-tiba ia berjalan mendekatiku. Aku jadi gugup. Ia
menatapku lekat-lekat seakan-akan sangat menantikan kedatanganku hari ini. Aku juga jauh berubah. Bisikku dalam
hati.
“Haii… apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu. Kangen
banget rasanya. Aku benar-benar menantikan pertemuan kita hari ini.” Entah dari
mana asalnya ia berkata seperti itu.
Aku terkejut.
Maka kucoba beranikan diri untuk angkat bicara.
“Hmm…” Aku semakin gugup.
Kalimatku tercekat di ujung tenggorongkan. Berbicara
langsung kepadanya sepertinya lebih sulit dari yang kukira.
Baiklah, akan kucoba lagi.
“Hmm..”
“HMMMAAAOOO….. HHMAAaaaaooo… Hmmaaaoohh”
Aku benar-benar ingin menegaskan lagi bahwa aku…
“Hmmmaaaoo…”
Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku sadar aku tak bisa
berbahasa sepertinya. Kita memang berbeda. Aku besar bergelambir sedangkan ia
mungil dengan kesederhanaannya. Ia memakai mahkota kain yang menawan sedangkan
aku bertanduk mengerikan. Entah kenapa dunia ini harus mempertemukan aku dan
dia yang benar-benar berbeda.
“Hmmmmaaaaoooo”
Semakin kupaksakan kalimatku semakin aku sadar bahwa kita
memang benar-benar berbeda. Tapi tak bisakah kusampaikan perasaanku padanya? Tidakkah
ia memahami bahasa ketulusanku?
Kumohon. Sebelum waktuku habis.
***
Tak lama setelah itu kudengar takbir bersaut-sautan.
Pelataran itu semakin ramai di penuhi orang. Beberapa temanku yang tadi bersama
sudah tak terlihat lagi. Sepertinya giliranku sudah dekat.
Untuk sekali lagi dan terakhir kalinya, ia mengusap-usap
kepalaku. Lalu ia mundur mengambil jarak. Sapu tangan yang dari tadi ia genggam
kini ia tangkupkan di wajahnya, agar sewaktu waktu bisa menutup mata bila takut.
Kita sama. Aku juga sedang bersiap-siap untuk menutup mata, namun aku tidak
takut.
Kini aku benar-benar jatuh
di depannya – tersungkur pasrah di depan belati yang merupakan perpanjangan
tangan dari takdir. Banyak kisah cinta yang harus berakhir pada hembusan ajal. Tapi
jangan samakan aku dengan kenaifan Qais pada Majnun atau kecerobohan Romeo pada
Juliet. Cinta sejatiku memiliki makna yang dalam dan sakral.
Tak ada penyesalan dalam menjalankan takdir ini. Aku rela
berkorban, agar ia bisa mendekatkan diri pada-Nya. Bukankah itu hakikat cinta
tertinggi?
Aku rela mati, sebagai wujud penghambaan transendental pada
ilahi. Aku hadir bukan sekadar pemenuh sunnah
muakkadah. Aku hewan namun mengemban misi sosial kemanusiaan, di saat
orang-orang tak lagi manusiawi. Aku adalah simbol ketaatan. Aku adalah
eksistensi dari rasa syukur yang penuh keikhlasan. Aku adalah symbol ketaatan tanpa
pamrih.
Takbir berkumandang semakin
kencang. Seketika itu aku bercucuran. Itulah bukti cintaku.
kapuk, 04-10-14
Comments
Post a Comment