Kasih dan Sayang

Image


Walaupun tak bersinar penuh layaknya purnama, cukuplah keindahan rembulan itu menyejukkan mata. Bintang-bintang berkedip-kedip menggantung di atas sana – menjadi pelengkap kesunyian malam yang tentram. Angin berhembus perlahan, membelai kehidupan malam yang damai. Tapi semua itu tak cukup untuk menenangkan hati seorang Fulan.


Izinkan aku mengenalkan kalian pada pemuda ini. Ia telah duduk di atap rumah sejak matahari terbenam tadi. Enggan baginya beranjak turun walaupun sepertinya tubuh kurusnya mulai kedinginan berselimut malam. Pemandangan indah di atas sana hanya ditatapnya kosong.


Hayalnya melayang jauh ke seberang pulau, membayangkan wajah yang selama ini ia pandang sembunyi-sembunyi. Sudah sejak lama ia telah mengagumi sosok yang diciptakan begitu anggun ini. Rupanya jarak dan waktu tak meredupkan perasaannya. Ia tersihir oleh kepolosan gadis bersenyum manis ini. Fulanah, begitulah ia biasa dipanggil.


Beberapa kali awan melintas, menutupi cahaya bulan yang menerpa wajahnya. Namun ia sama sekali tak memperhatikan. Ia masuk dalam dunianya sendiri. Permainan menebak perasaan pun dimulai. Sesekali ia tersenyum, cemberut, dan tertawa, membayangkan dialog yang ia susun sendiri. Entah dialog itu bakal terucap atau tidak. Hayalnya membius tanpa ampun.


Kalian tahu? Di saat seperti ini ia bisa menjadi pujangga dadakan yang luar biasa. Bait-bait puisi dengan mudah tercipta begitu saja. Senandung lagu yang indah terlantun spontan. Namun tak sedikpun nyali tersisa untuk mengirimkannya pada sang dambaan.


Meskipun dari mulut ‘walau badai menghadang’ tapi keberanian tak kunjung datang. Tak sadar telah lama waktu berselang. Sementara tak trelalu banyak hubungan ini berkembang. Hanya doa yang ia titipkan pada Sang Pengasih dan Penyayang. ‘Baik-baik saja’-nya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya senang.


Sebenarnya ia juga tak mengerti, apakah yang ada di hatinya itu sebuah perasaan suci yang biasa orang sebut kasih dan sayang, atau sekadar nafsu yang penuh hasrat ingin memiliki. Ia bingung kenapa Tuhan menciptakan dirinya dengan perasaan itu. Sementara ia juga harus menghindar dari laknat-Nya yang bisa timbul dari perasaan itu.


Satu pendirian teguh Fulan  yang kukagumi sampai saat ini, teringat ia berkata


 “Mungkin kau benar aku ini pemalu. Kau mungkin juga benar aku ini memalukan. Tapi aku justru lebih malu dihadapan Sang Pengasih dan Penyayang bila rasa kasih dan sayang ini tak kugunakan dengan benar. Aku tak ingin mengecewakan pemilik sejati dari sifat ini.”  



Sekilas ini terlihat hanya sebatas masalah dua perasaan. Tapi dari dulu urusan ini memang tak pernah mudah. Ribuan kisah telah terjadi, ribuan kisah sedang berlangsung, dan ribuan kisah lainnya segera menyusul. Tak semua berakhir indah. Dan tak ada yang bisa memastikan bagaimana akhir dari kisah si Fulan ini. Tak terkecuali rembulan yang menjadi saksi bisu kisah mereka.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!