Ramadhan Bersamamu

Saat ku buka mata hari ini, aku melihat sosok yang begitu kukenal. Itulah wajah yang kutatap saat pertama kali membuka mata di dunia. Tak banyak yang berubah dari wajah itu. Kerut-kerut itu hanyalah tanda kebijaksanaan atas usaha keras menjagaku hingga sebesar ini. Dan uban-uban itu bukti tak ada hari yang terlewat tanpa perhatiannya untukku.

ramadan-canada


Hai ibu, Belum ada tanda-tanda fajar menjemput, kau sudah membangunkanku untuk sahur. Tubuhku belum segar benar akibat mengerjakan tugas semalam. Tapi kau telah menyiapkan hidangan ketika aku tidur nyenyak. Bahkan aku tahu sebelum itu pun kau masih sempat bersimpuh di atas sajadah dan menyisipkan namaku dalam doamu.

Tak ada lauk yang istimewa tapi santap sahur kali itu sungguh lezat. Tempe (yang jamurnya belum jadi sempurna) goreng, ikan mujair goreng renyah, tumis kangkung, dan sambal terasi matang. Kau tak pernah lupa makanan kesukaanku itu. Aromanya dengan cepat menarikku dari kasur tidur, membelalakkan mata yang tadi menikmati mimpi.  Aku tak paham betul resepnya, tapi kau pasti menaburkan bubuk cinta di situ.

Maafkan aku Ibu, tak banyak waktu yang kuluangkan untukmu. Selalu saja ada alasan untuk pergi -  berlagak menghadapi urusan akademis yang bertubi. Dengan dalih mengejar prestasi, aku terlalu larut dalam obsesi omong kosong yang belum tentu bisa teraplikasi. Terkadang aku terlalu sibuk menyelami dunia aktivis yang bisa jadi berbalut kepentingan tertentu. Aku terbutakan dalam iming-iming akualisasi diri.

Maafkan aku yang tak bisa terlepas dari gangguan deadline pengumpulan tugas, jarkom rapat, jadwal kelas kursus tambahan, poster lomba yang menggiurkan, dan undangan berharga konferensi. Perhatianku tersedot pada hal-hal yang entah apakah layak diperjuangkan. Aku seperti anak kecil yang terlalu asyik pada mainan barunya.

Sungguh kau lebih berhak atas kehadiranku. Kau telah menggendongku nonstop 9 bulan dalam perut, meyusui selama 2 tahun, mengajariku berbicara, dan memberikan jasa-jasa yang jangankan untuk kubalas, kuhitung pun tak bisa. Dan kau tak pernah berharap balas atas semua itu. Cukup suksesku menjadi bahagiamu.

Terus menerus berlangsung seperti itu, hingga kita dipertemukan di ruang khusus dalam perputaran waktu, tempat di mana kalam mukjizat diwahyukan, tempat berkah dan rahmat diturunkan, tempat bisikan nafsu tertahan, tempat yang boleh jadi lebih mulia dari ribuan jenisnya. Di ruang ini kita diberi kesempatan untuk melaksanakan kewajiban para pendahulu, dan satu ujung dari semua ini: meraih ketakwaan.

Aku ingin melewati Ramadhan bersamamu, menyempatkan diri meniti kalam-kalamNya, menghabiskan rakaat-rakaat di sepertiga malam itu, mengejar kemuliaan malam seribu bulan, dan bersama menikmati hidangan yang telah kau siapkan ini.

 

sumber gambar: http://www.timeanddate.com/holidays/us/ramadan-begins

Comments