Menebar Inspirasi

 

DSC01035

400, bukan. 700,lewat. 1000, lebih. Ah, entahlah. Tak perlu kuhitung dengan jeli untuk menyimpulkan bahwa balairung UI malam ini begitu ramai. Sunyi malam seketika sirna karena kemeriahan  acara penganugerahan Mahasiswa Berprestasi (Mapres) UI 2013.

Merah, jingga, biru, abu-abu, dan berbagai corak warna lainnya memenuhi setiap sela ruangan. Para suporter mendukung perwakilan calon Mapres UI 2013 dari fakultas masing-masing.  Spanduk terpasang, bendera berkibar, yel-yel pun saling bersahutan. Belum sampai di telingaku sendiri, teriakanku sudah tertelan gemuruh dukungan suporter.

Para calon penerima penghargaan duduk manis di tempat yang telah disediakan. Sesekali mereka berdiri menyalami kenalan atau sekedar melambaikan tangan pada para suporter. Mereka bertiga belas adalah perwakilan mahasiswa terbaik dari fakultas masing-masing. Dengan segudang prestasi dan kontribusi, mereka telah melalui berbagai tahap penyeleksian yang ketat. Seribu lebih pasang mata menjadi saksi siapa yang akan mendapatkan penghargaan Mapres UI 2013.

Aku teringat pembicaraan dua orang Mapres dalam sebuah acara talkshow di kampus. Mereka adalah Andreas Sanjaya,  Mapres Fasilkom 2012, dan Muhammad Fadel, Mapres FE 2012. Mapres bukanlah suatu tujuan. Ia adalah bonus dari tetes keringat yang belum tertagih, apresiasi dari karya yang penuh pengorbanan, penghargaan atas usaha tanpa pamrih untuk terus berkontribusi bagi sesama. Kurasa 13 orang calon mapres yang sedang menunggu pengumuman itu juga berpikir demikian.
Karena penghargaan  adalah bonus, maka tak perlu dikejar. Jika memang pantas, itu akan datang dengan sendirinya.

Mapres tidak seperti terminal, tempat tujuan akhir dalam perjalanan. Jika diibaratkan, Mapres itu seperti halte, hanya tempat pemberhentian sementara untuk terus melanjutkan perjalanan panjang. Masih banyak halte yang perlu dikunjungi – masih banyak prestasi yang bisa diraih, masih banyak permasalahan negeri yang perlu ditangani. Mapres dapat menjadi batu pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Dari Jabir, Rasulullah SAW bersabda, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Kiranya Rasul telah memberi tahu kita untuk berprestasi – menebar manfaat bagi sesama. Sudah sepatutnya kita membingkai segala aktivitas dengan misi ibadah karena Allah. Lalu berorientasi untuk menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain, nafi’un lighairihi. Karenanya, Hasan Al Banna memasukkan nafi’un li ghairihi ini sebagai salah satu karakter, sifat, muwashafat, yang harus ada pada diri seorang Muslim.

Jauh panggang dari Api. Aku memang belum memiliki karya yang berarti. Tentunya belum pantas mendapatkan penghargaan apapun. Tapi ketidakberdayaan raga ini  selalu berharap bisa memberi kebermanfaatan bagi orang lain, apapun bentuknya.

Mapres bukan soal beradu gengsi, apalagi urusan mengumbar ego pribadi. Tapi ini tentang menebar inspirasi dan kontribusi. Simpel, satu orang berprestasi, yang lain mengikuti, dan banyak karya yang akan tercipta sebagai aktualisasi diri. Tak perlu berebut kursi. Penghargaan dari-Nya jauh lebih berarti. Terakhir, saya ucapkan selamat bagi para penerima penghargaan. Selamat menebar Inspirasi

Niwa Dwitama, Mapres Utama UI 2013

Mardhatilla Amalia, Mapres II UI 2013

Boby Andika ruitang, Mapres III UI 2013

DSC01065

sumber hadist: http://www.bersamadakwah.com/2012/05/khutbah-jumat-menjadi-pribadi-yang.html

sumber foto: olahan pribadi

Comments

  1. Pyan for MAPRES UI 2014

    ReplyDelete
  2. selain belom pantes, 2014 masih belom boleh ded. minimal tahun ketiga

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!