Faktor X

Rasa humanis kini seakan menjadi frase utopis. Manusia berubah semakin oportunis. Perkembangan teknologi boleh semakin maju, tapi sisi kemanusiaan terjerumus pilu. Perbudakan yang semestinya menjadi bagian sejarah kelam, kini kembali terulang menjadi berita suram. Tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi justru menjadi objek eksploitasi.
Belakangan ini berita tidak sedap tercium dari Tangerang. Sebuah pabrik panci mempekerjakan buruhnya seperti budak. Mereka dipaksa bekerja dari dini hari hingga tengah malam. Bahkan untuk beribadah ataupun mandi pun mereka tidak diperbolehkan. Para buruh juga ditempatkan di tempat tidak layak berupa ruang tertutup 8 x 6 meter, tanpa ranjang tidur, hanya ada alas tikar, kondisi pengap, lembab, gelap, terdapat fasilitas kamar mandi yang jorok dan tidak terawat. Pabrik liar ini tidak mengantongi izin industri dari Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang.
Tenaga kerja adalah salah satu dari empat faktor produksi selain tanah, modal, dan kewirausahaan. Keempatnya bersinergis untuk menjalankan fungsi prosuksi. Keempat faktor produksi tersebut disuplai oleh rumah tangga konsumen. Namun sering kali faktor tenaga kerja yang mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Persediaan tanah relatif tetap dan tak bisa diubah. Sementara pemilik modal dan wira usaha secara rasional tak mau bila pembagian kue keuntungan mereka berkurang. Pada akhirnya para buruh yang menjadi korban karena lemahnya bergainning power mereka.
Karena kurangnya nilai tawar tersebut, perusahaan jika terdesak cenderung melakukan intervensi pada tenaga kerja dengan pemecatan atau pengurangan gaji. Agak miris bila kebijakan ini sering disebut rasionalisasi. Pemecatan ataupun pemberian gaji yang minim menghilangkan esensi timbal balik atas usaha yang mereka lakukan. Padahal merega juga termasuk stakeholder perusahaan. Kiranya akal sehat kita cukup melenceng mendefinisikan kata rasional.
Dengan pendapatan yang terus ditekan, rumah tangga penyedia faktor tenaga kerja akan kesulitan dalam meningkatkan standar kehidupan yang layak termasuk pendidikan. Padahal hal itu dibutuhkan untuk menggeser mereka untuk menjadi penyedia faktor produksi lain. Jika tak ada perubahan, turun temurun keluarga mereka akan tetap seperti itu. Mereka terjebak dalam lingkaran setan. Sekali buruh tetap buruh.
Jika kondisi ini terus- menerus berlangsung, seperti bom waktu, tinggal menunggu saatnya saja mereka mengumpulkan kekuatan dan melakukan pemberontakan. Hal ini telah terjadi pada masa setelah revolusi industri di Eropa. Tentunya Indonesia tidak mengharapkan itu terjadi.
Permasalahan buruh memang kompleks, tentu saja tidak akan selesai dengan sekedar kenaikan gaji. Itu juga akan percuma bila tak diimbangi dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Meminjam istilah Prof, Sri Edi Swasono, para buruh itu membutuhkan upaya pemberdayaan masyarakat (empowering society). Dengan demikian mereka bisa mandiri dan tidak tergantung pada pemilik modal.
Pemberdayaan tersebut dapat mengangkat nilai tenaga kerja sebagai faktor yang berpengaruh besar dalam proses produksi. Tenaga kerja memang seharusnya menjadi faktor X untuk extra ordinary, bukan faktor X untuk exploitation.
sumber berita: http://www.tempo.co/read/news/2013/05/04/064477938/Buruh-Pabrik-Panci-Dipaksa-Kerja-Seperti-Budak
sumber gambar: http://www.ceritamu.com/cerita/Cerita-Buruh-Pabrik-Panci-yang-Dilarang-Salat
Aseeeeeekkkk
ReplyDelete