Ujung Rasionalitas Cinta
Ujung rasionalitas cinta: antara “Kamu yang terbaik untukku”
dan “Aku nerima kamu apa adanya”
Dua kalimat tersebut kerap dijadiin ungkapan yang bukan
hanya untuk meluluhkan hati si dia tapi juga sebagai standar yang digunakan
untuk mengarahkan hati kita sendiri.
Kali ini saya ingin membahas dua kalimat tersebut bukan
sebagai gombalan, melainkan renungan atas keputusan pilihan, tentunya dari
perspektif sedikit ilmu yang pernah saya pelajari: mikroekonomi.
Dari SMA sampai kuliah saya didoktrin bahwa ilmu ekonomi
merupakan ilmu tentang memilih. Adapun landasan paling dasar dalam konsep
pilihan adalah rasionalitas. Dengannya kita diprediksi bisa mendapatkan hasil
keluaran yang optimal.
Lantas terkait hati, sudah optimalkah pilihan kita…? Tunggu,
sebelum ke situ, ada pertanyaan mendasar yang lebih perlu ditanyakan. Sudahkah
kita memilih secara rasional?
Sadar atau tidak, pada dasarnya kita memilih berdasarkan
alternatif dan kriteria dengan proses yang tidak terlalu rumit. 1) Susun
alternatif yang ada. 2) Tentukan kriteria. 3) Berikan pembobotan untuk setiap
kriteria. 4) Berikan nilai kriteria pada tiap alternatif. 5) Pilih alternatif dengan
nilai terbaik.
Inilah mengapa saya tidak percaya dengan istilah “Aku nerima
kamu apa adanya”. Preferensi menyaratkan landasan “ada apanya”. Menyembunyikan
udang di balik batu merupakan sebuah kewajaran yang manusiawi. Sah-sah saja.
Pada umumnya orang menentukan pilihan berdasarkan, “Aku
nerima kamu dengan lesung manis di ujung senyum yang membuatku lupa bahwa ada
senja sebelum rembulan menyapa” atau sesimpel “Aku nerima kamu dengan profil
LinkdIn kamu”
Sayangnya, kita pun juga tidak bisa mencapai “Kamu yang
terbaik untukku” mengingat keterbatasan otak dalam memproses informasi. Tidak mungkin
kita bisa melakukan assessment ke
semua orang yang pernah kita temui. Akan
selalu ada dia yang terlewatkan.
Pilihan kriteria juga belum tentu stabil. Setelah ketemu
Anto, Ani menganggap ketangguhan pribadi adalah kriteria utama. Tapi setelah
ketemu Hanggoro, dia berpikir, “enak juga ya punya partner yang bisa masakin tahu bulat”
Akan selalu ada hal-hal yang membuat pilihan kita
subobtimal; entah itu eleminasi alternatif, seleksi kriteria, serta bias
pembobotan dan penilaian. Hal ini menjadikan kita boundedly rational dalam pengambilan keputusan. Terus gimana, dong?
Saya ingin berbagi catatan Hebert Simon mengenai pengambilan
keputusan. Beliau adalah salah satu ilmuan yang berhasil meraih puncak prestasi
akademik di berbagai bidang, peraih nobel bidang Ekonomi, peraih Turing Award
di bidang Komputer, dan peraih APA Award di bidang Psikologi. Walaupun
referensi catatannya tentang perusahaan, ini masih relevan buat masalah individu.
1) Many problems are too complex, or
not worthwhile
2) We don’t optimize but search for a
solution that is “good enough”
3) We simplify the problem by
formulating sub-goals
4) We use heuristics and tradition
5) We change behavior only if we are
not happy with the outcomes, and we search locally for improvement
Saat main catur, tidak mungkin kita tahu langkah sampai ‘goal’ menjatuhkan raja dari awal
permainan. Memakai informasi heuristic
kebiasaan dan pengalaman, kita memuaskan diri dengan bermain ‘sub-goal’ yang simpel: membunuh pion, mengatur
posisi, atau sekadar ‘jalanin aja dulu’.
Dalam memilih si dia, ketidaksempuran pengambilan keputusan
inilah yang membuat kita menunda keputusan atau tetap bertahan dengan yang
dirasa nyaman. Dengan kata lain, optimasi kita bergeser menyesuaikan petuah
tulus: penerimaan.
Lagipula, dengan informasi simetris sekalipun, kalau kita
benar-benar mampu memilih di yang ‘terbaik’ menurut kita, syarat untuk mendapat
dia adalah jika dan hanya jika kita adalah yang ‘terbaik’ menurut dia. Dia mau ga sama lo?
Kalau ini bahasan game theory, kira kira begini, "Boleh
jadi dia best response saya tapi
belum tentu saya adalah best response-nya
dia. Makanya kita tidak bertemu di Nash Equilibrium, apalagi Subgame Perfect
Equilibrium"
Pada akhirnya, kita kembali pada ‘good enough’-solution yang diusung om Simon dan ini mengingatkan saya
pada lagu Iwan Syahwan di penghujung abad 20, “Yang sedang sedang saja… yang
penting dia setiiaa….”

in the end pake teorinya bang iwan ya 😂
ReplyDelete