Game Theory dan Perselingkuhan
Perselingkugan dalam Perspektif Dynamic Game Theory: Antara
Dusta dan Cinta
Saat hubungan mulai jenuh, mungkinkah salah satu pasangan berselingkuh?
Kalopun iya, hubungan bagamana hubungan tersebut bisa terus bertahan? Game
Theory bisa menjadi alat yang unik untuk bahas kasus ini.
Mari kita misalkan pasangan (A dan B) berada pada titik di
mana masing masing bosan. Tidak hanya mereka mulai melirik orang lain, tapi
mereka juga mencurigai pasangannya sendiri. Masing masing punya pilihan untuk
tetap cinta (C) atau malah dusta (D) alias selingkuh. Konsekuensi atas pilihan
tersebut menetukan kebahagiaan yang diwakili oleh matriks payoff berikut.
Kalau dua-duanya cinta (C,C), masing-masing mendapatkan 5.
Kalau salah satu dusta (D,C)/(D,C), yang dusta mendapatkan 7 dan yang dihianati
mendapat 0. Kalau sama-sama dusta (D,D), masing-masing hanya mendapatkan 2. Kesimpulan
preferensinya mengikuti order berikut: selingkuh-dicintai (7) > sama-sama
cinta (5) > selingkuh-diselingkuhi (2) > diselingkuhi (0).
Kalau game ini dimainkan sekali, masing masing akan berpikir
seperti ini. Kalau dia dusta, lebih baik aku dusta agar lebih bahagia (payoff 2
ketimbang 0). Kalau dia cinta, pilihan Dusta lebih menarik karena aku bisa
bersenang-senang dengan pasangan baru (payoff 7 ketimbang 5). Terlepas dari apa
yang dilakukan dia, strategi terbaik adalah dusta.
Akhirnya, mereka sama-sama berdusta dan hanya mendapatkan kebahagian
semu (2). Padahal ini equilibrium tidak menghasilkan output optimal yang mestinya bisa tercapai kalau sama-sama cinta
(5). Tapi, mengingat risiko diselingkuhin/didustai itu menyakitkan (0), makanya
mendingan dusta aja sekalian.
Tapi yang namanya hidup, permainan tidak berhenti di situ.
Ada masa depan yang juga perlu dipertimbangkan. Karenanya game tetap berlanjut
dan strategi yang menentukan equilibrium bisa berubah. Kalau salah satu bisa
punya ancaman kredibel, strategi bisa berubah.
Misal, A bilang: “Awas ya, kalau kamu sekalinya selingkuh
(D) aku nanti aku juga selingkuh (D) selamanya!” Terlepas B akan bertaubat
nantinya, B tidak akan dimaafkan dan keinginan dia untuk dusta di masa ini bisa
mengecil, bila payoff didustai di masa depan cukup rendah. Ancaman A ini
diwakili gambar berikut (biru:C|merah:D)
Ada juga tipe pasangan yang latah, “Kalau kamu selingkuh
nanti aku juga selingkuh. Kalau kamu mau serius balikan, aku juga mau balikan.
Pokoknya aku tergantung gimana kamu aja”
Tapi ada juga yang bilang seperti ini, “Kalau kamu selingkuh
mungkin aku bakal marah, tapi habis itu ga tau kenapa pasti aku bisa maafin.”
Ini yang gawat, tapi ya namanya juga udah terlanjur cinta.
Kalau ini tipikal pasangan iri hati, “Oke sana selingkuh, ga
usah balik ya. Aku cuma mau maafin kamu kalo gentian aku selingkuh. BIAR
IMPASS!”
Setiap orang berbeda-beda jenisnya dan equilibrium terbentuk
berdasarkan tipikal orang tersebut. Ada yang bisa mempertahankan hubungan ada
pula yang tidak. Namun, untuk mempertahankan hubungan tetap jalan (C,C), ada
satu hal yang bisa diharapkan, yakni KESABARAN. Dalam game hal ini diwakilkan
oleh discount factor (delta) atas
payoff masa depan.
Semakin sabar seseorang (semakin besar delta), makan semakin
besar ia menghargai komitmen masa depan, di mana ia tidak mudah tergiur untuk
mendapatkan kepuasan saat ini (Dusta=7) tapi menderita di masa depan (diselingkuhi=0,
saling selingkuh=2).
Komitmen untuk saling mencintai mendapatkan kebahagiaan yang
lumayan (5), walaupun tidak sebesar kesenangan selingkuh (7). Tapi kalau
konsisten, total kebahagiaan sepanjang hidup (game) akan lebih besar.
Kita ambil contoh tipe pasangan yang langsung putus tanpa
ampun kalau ada sekali yang selingkuh. Tetap berkomitmen akan mendapatkan total
payoff: 5+5d+5d^2+5d^3+... sampai maut memisahkan. Sedangkan selingkuh
mendapatkan 7+2d+2d^2+2d^3+... sampai mati.
Berkomitmen untuk mencintai akan lebih menguntungkan jika
dan hanya jika 5+5d+5d^2+5d^3+...>=7+2d+2d^2+2d^3+... Dari sini bisa
dihitung berapa d (kesabaran) yang harus dimiliki untuk mempertahankan
hubungan, yakni d>=0.4
Jika kesabaran cukup tinggi, misal d=0.9, hubungan tetap
aman. Tapi ini tergantung sifat individu yang ditunjukkan gambar bulat-bulat di
atas. Beda tipe pasangan beda kasus, beda dinamika pengambilan keputusannya.
Dan tentunya bergantung bagamana persepsi masing-masing
pasangan menilai kebahagiaannya saat setia, selingkuh, atau diselingkuhi.
Silakan dicoba sendiri membuat payoff gamenya biar bisa menganalisis. TAPI
HARUS PUNYA PASANGAN DULU YA!!!
P.S.: Walau terlihat rumit, sebenarnya analisis masih
oversimplified. Game masih menggunakan asumsi common knowledge, yang berarti informasi bersifat simetris ke
masing-masing pasangan. Padahal orang belum tahu perasaan pasangannya sekarang
dan masa depan. Jika common knowledge
tidak berlaku, player perlu menentukan belief
dengan memberikan peluang dari state
kejadian melalui signal yang
didapatkan.






Comments
Post a Comment