Senyap
Aku menyukai caramu membiarkanku mengabaikanmu malam itu.
Dari situ kupahami dunia kita tak dijembatani aksara. Kita bersapa melalui tatap
rela.
Jemariku mengetuk meja sedangkan kau menyibukkan garpu
dengan serpihan sisa pasta. Barisan narasi yang tersiapkan sedari sore telah tertelan.
Aku dan kau menyetujui bahwa mata dan raut muka pun bisa bicara, dengan
interpretasi yang boleh jadi tidak sama.
Kita pernah beresonansi pada getar perasaan yang senada. Ketuk
demi ketuk membawa kita saling mengangguk. Lantun harmoni menggoda kaki untuk
berhentak dan menari, lupa bahwa malam tawarkan gemerlap dengan garis langit di
ujungnya.
Kini kita adalah detak jantung yang tak lagi terdengar
familiar. Kita lupa pada udara yang pernah terhirup dan membiarkannya terhembus
bersama angin musim gugur yang dingin. Namun barangkali itu cara terbaik untuk
bernafas.
Kuperhatikan wajahku dengan lekat dari pantulan bola matamu
dan kuyakini tak ada gurat penyesalan. Begitu pula mataku merekam. Aku dan kau menyepakati
bahwa ini adalah keputusan, bukan
keputusasaan.
Delft, 28-10-18
gambar dari sini

Comments
Post a Comment