Menyapa Manggarai Pagi
Aku sudah
terjaga saat malam enggan pergi. Kucari secercah cahaya untuk sekadar menatap
wajah polos itu. Kau masih terpejam.
Kecup
sederhana pada kening yang mungkin tak kau sadari menjadi salam perpisahan, serta
ungkap penyesalan, karena kita terpaksa berbagi potongan mentari yang berbeda.
Menyapa Manggarai pagi, gerbong kereta membawa mereka meniti
jalur rejeki. Dijejalkannya tulang
punggung pada himpitan harapan, bahwa selama masih dapat menjejakkan kaki,
mereka tak akan berhenti.
Aku berada
di sela-sela ketiak dari lengan yang menggantungkan asa. Setel pakaian yang disetrika
buru-buru itu kini harus berbagi kusut. Tak peduli warna kerah baju, di kubik
besi ini kita mengadu nasib yang sama.
Menggugah keramaian
ibu kota, beton-beton penyangga ekonomi menjadi saksi, bahwa mereka
menggulirkan roda penghidupan dengan jerih masing-masing. Satu memikul satu
menjinjing, mereka sama-sama mengangkut nominal.
Antara peluh keringat dan sesuap nasi, terselip niat kerja
ilahi. Dapur boleh mengepul pekat, namun hidup harus tetap pada hakikat. Di tanah tempat semua berebut, banyak
orang memasang sikut.
Saat hari telah
tertekuk, senja merekam penat wajah mereka. Dari mata yang mengganjal lelap,
disisakannya tenaga untuk kembali pulang ke tempat yang mereka sebut rumah,
entah apapun bentuknya.
Setibanya aku
di depan pintu yang kau ganjal dengan penantian, kudapati lampu bilik telah
meredup. Dengan getir penyesalan yang sama, aku mengecup keningmu lagi.
Cikini, 21/08/17
gambar dari sini

Comments
Post a Comment