Di Sela-sela Hujan
Kau
tinggalkan aku dengan hujan dan jendela, kombinasi yang tepat untuk menyangga
sendu yang bertumpu di antara tangan dan dagu. Penat terasa pada kehidupanku yang
terbingkai bilah kayu persegi, sementara naluriku menyeret paksa untuk pergi.
Yang kuusap
bukan raut yang wajah terlanjur sembab, tapi bilah kaca yang buram melembab. Dari
sudut kamar ini, pandanganku menyapu taman yang terselimut basah. Di situ air mengalir
untuk hembus kehidupan, bukan bersumber dari kepedihan.
Jika
kebahagiaan tak bisa kucari di dalam sesaknya hati, akankah ruang di luar sana memberi
kesempatan yang lebih berarti? Angin dingin enggan membawa pertanyaanku, kuputuskan
untuk melangkah keluar demi sebuah jawab.
Apa yang
kucari di sela-sela hujan adalah kebijaksanaan yang merampungkan bait-bait
sajakku, yang menerjemahkan sepi dari riuhnya guntur, yang menunjukkan cercah cahaya
dibalik mendung.
Sayangnya
langit hanya tandakan isyarat, tanpa beri petunjuk akurat. Lantas bagaimana aku
tahu hujan mana yang bisa janjikan pelangi.
Seperti bianglala,
perasaanku hanya berputar tanpa beranjak. Aku bergerak pada poros keyakinan
yang berselaras pada jiwamu. Maka saat langit turunkan milyaran butir air, aku
hanya bisa pasrah dan basah. Karena berteduh tanpamu bukanlah pilihan.
Bandung, 18/04/17
gambar dari sini

Comments
Post a Comment