Di Seberang Peron
Kemarin aku melihatmu di seberang peron. Kau sandarkan
pundakmu pada dinding yang berlapiskan tegel tua. Aku terbiasa dengan cara
kakimu mengetuk lantai untuk mengusir bosan. Kita sama-sama melakukan hal yang
kita benci: menunggu.
Sayangnya hal yang kita tunggu sama sekali
berbeda. Kau menantikan kedatangan kereta yang telah terjadwal di papan
informasi. Sedangkan yang kunanti bukanlah hal yang pasti.
Bibirku terbuka separuh sapa ketika kereta
datang menghalangi pandanganku dengan pesan ‘sampai jumpa’. Angin yang berhembus
bersama kepergian peti besi itu membawa kesepian yang dingin. Tak sebersit mata
kau tengokkan pada aku yang hampir
menggigil.
Kemarin aku melihatmu di stasiun kecil itu.
Begitupula dengan kemarin lusa dan sebelumnya. Entah sejak kapan, menyaksikan
berangkat dan pulangmu menjadi rutinitasku. Biarkan ini menjadi secuil candu kebahagiaan
sebelum menjemput siang dan malam.
Pagi tak ubahnya seperti pagi-pagi lain, tapi
aku masih saja sulit membedakan wajahmu dengan salam hangat mentari. Ratusan
senja kusaksikan, tapi lengkung senyummu itu masih kukira separuh rembulan yang
mengejar petang.
Aku denganmu, terjeda jarak sepelemparan batu –
yang semakin menganga dengan perbedaan tujuan. Jalur rel kita sudah sejajar,
namun tidak dengan arah yang selaras. Aku hanya berharap suatu saat nanti kita
berada pada satu gerbong dengan tujuan yang sama: rumah.
Kotake Mukaihara,
n.a.
gambar dari sini

Comments
Post a Comment