Sajak yang Hilang
Aku sudah mulai lupa bagaimana cara menulis sajak. Rangkaian kalimat yang ingin kuuntai kehilangan diksi dari lumbung aksara. Aku bingung bagaimana menyusun kata demi kata untuk sampaikan penggalan yang bermakna.
Jika hal
yang ingin diutarakan tak bisa terekam pada bait bait yang ku tulis, tak ada
lagi medium yang bisa mewadahi beratnya sebuah pengakuan. Sementara bibir tentu
tak kuasa menggetarkan suara. Di hadapan tatapanmu aku hanya menyeracau dengan
bahasa bisu.
Entah
sampaikan aku menyimpan, entah sampai kapan itu terpendam. Barangkali ia akan
tertelan hilang dan barangkali ia menguap habis.
Jika syair
diibaratkan hidangan salad yang tersaji pada sebuah piring, bukan hanya aku tak
mampu memilih sayur segar beserta sausnya, ketidakberdayaanku mengakar dari
ketidakmampuan untuk menumbuhkan sehelai daun. Lantas apa yang harus kusajikan?
Entahlah…
barangkali memang tak perlu dipaksakan
Biarkan sajak
yang hilang itu menjadi bagian awan yang lewat. Bila memang pas waktu dan
kondisinya, ia akan datang kepadamu dalam bentuk hujan. Kau boleh berteduh atau
berdiam diri terbasuh.
kapuk, 20/10/16
gambarr dari sini

Comments
Post a Comment