Bohong
Mulutmu mengucap tapi hatimu berbisik. Kau bersuara
tapi aku tak mendengar. Kau duduk sempurna anggun, tapi nyatanya dirimu tak di
situ. Jika kita teruskan percakapan ini sampai esok, aku hanya akan mempertanyakan
tatapan hampamu.
Lewat kerut bibir itu, bisa kubaca getir ketidakjujuran.
Tapi aku tidak menginginkan permintaan maaf, sebab bukan aku yang kau dustai. Kau akan sampai pada batas bila terus membohongi diri.
Tengok saja dirimu pada pantulan cermin. Tanyakan
pada bola matamu kepada siapa ia jatuhkan perhatian. Yakinkan aku bahwa selama
ini bukan kaca mata kuda yang kau pakai, bahwa kau melihat bukan dengan
satu-satunya pilihan di hadapanmu.
Belajarlah dari air matamu yang lebih mampu
berkata. Setiap butir adalah perwakilan dari ketulusan sekaligus carut marut-nya
hati. Ia menetes tanpa menghianati kodratnya untuk jatuh pada tarikan bumi. Ia
sampaikan pesan bahwa kau tidak bisa terus bersembunyi di balik “baik-baik
saja”-mu.
Menghadapi dunia yang bukan dua dimensi tentu
tak bisa hanya dengan mengangguk dan menggeleng. Kau tahu bahwa keputusan bijak
selalu berada di antara pertimbangan-pertimbangan yang berat. Jalan terbaik
tidak digariskan dengan penanda hitam-putih di atas kertas. Kau mencarinya lewat
perjalanan yang dimulai dengan satu langkah.
Maka jangan coba untuk menutup diri dari orang
yang selalu membuka hati. Jangan kau bohongi diri sindiri untuk menutup keengganan
dengan kenyamanan yang semu. Percayalah bahwa, layaknya secangkir kopi,
kepahitan pun bisa dinikmati.
Singkarak 07/08/16
gambar dari sini

Comments
Post a Comment