Di Balik Ketidakjujuran
Berita
mengenai penipuan, korupsi, ataupun tindakan kriminal lainnya sudah seperti
sarapan pagi untuk masyarkat. Setiap hari, melalui koran, televisi, maupun
jaringan internet, kita disuguhi kabar perilaku ketidakjujuran (dishonesty) yang bahkan terkadang diluar
nalar. Walaupun sudah seperti hal yang lazim, ketidakjujuran tentu bukan untuk
dimaklumkan. Sistem norma yang ada dalam masyarakat menentang tindakan kecurangan,
baik dari sisi agama, hukum, maupun etika sosial. Para pelanggar itu sebenarnya
juga tahu bahwa ada batasan dan konsekuensi berupa sanksi. Meskipun demikian perilaku
tersebut tidak hilang begitu saja. Lantas apa yang mendasari tindakan ini
terjadi?
Gery
Becker adalah ekonom pertama yang mencoba menjabarkan motif tindakan ketidakjujuran
dari sudut pandang ilmu ekonomi. Dalam teori Simple model of Rational Crime (SMORC), Becker (1974) menjelaskan
bahwa tindakan kriminal (yang juga bisa diasosiasikan dengan ketidakjujuran)
didasarkan atas perhitungan untung rugi oleh pelaku. Individu akan berkomitmen
untuk melakukan tindakan kriminal apabila ia merasa bahwa keuntungan yang
didapatkan dalam berbuat kriminal melebihi peluang tertangkap ditambah biaya
hukuman yang ia dapatkan bila tertangkap.
Tanpa
mengurangi apresiasi pada ide pionir Becker, pada kenyataannya sebab dari tindakan
ketidakjujuran tidak sesimpel melandaskan pada perhitungan net benefit. Apabila benar demikian, seharusnya tingkat
kriminalitas bisa diturunkan dengan memperketat penjagaan untuk meningkatkan
probabilitas tertangkapnya pelaku atau dengan melipatkan gandakan hukuman.
Sayangnya para kriminal tidak begitu responsif
pada peningkatan bobot hukuman, bahkan untuk eksekusi mati sekalipun.
Dalam sebuah penelitian eksperimen, Ariely (2009) membuktikan bahwa keputusan atas tindakan ketidakjujuran tidak disebabkan oleh pertimbangan kedua hal tersebut, melainkan dari pengaruh ketidakjujuran orang lain disekitarnya. Dengan mengetahui ketidakjujuran dari orang lain, persepsi seseorang akan sistem norma yang berlaku perlahan berubah dan mulai membenarkan tindakan kecurangan. Selain itu, tingkat ketidakjujuran ini semakin menjadi-jadi bila lingkungan sekitar menonjolkan atau melazimkan praktik kecurangan.
Sedangkan
dari perspektif psikologi, selain mengamini adanya insentif eksternal yang
dijelaskan Becker, Mazar (2008) menjelaskan bahwa mekanisme kompensasi dari
dalam individu juga menyebabkan perubahan pada perilaku ketidakjujuran. Kompenasasi
internal yang dilandaskan pada jiwa alturisme pada setiap individu mengkis efek
dari insentif eksternal. Bila sistem kompensasi internal ini tidak optimal,
maka bobot yang lebih besar pada insentif eksternal akan mendorong seseorang
untuk berprilaku tidak jujur. Untuk mengantisipasi hal tersebut, peningkatan
keefektifan mekanisme kompensasi internal dalam jangka pendek bisa dilakukan pemberian
isyarat konstekstual sedangkan dalam jangka panjang dibutuhkan dengan pemberian
pendidikan karakter yang baik.
bacaan lanjutan:
Becker,
Gary S. (1976) Essays in the Economics of
Crime and Punishment. National Bureau of Economic Research
Francesea,
D.; Ayal, S.; Ariely, D (2009) Contagion
and Differentiation in Unethical Behavior: The Effect of One Bad Apple on the
Barrel. Psychological Science. Vol 20. No 3
Mazar,
Nina; Ariely, Dan (2008) Dishonesty in
Everyday Life and Its Policy Implications. Journal of Public Policy &
Marketing Vol 25
Comments
Post a Comment