Yang tak tersampaikan
Entah harus berapa kali kukatakan bahwa aku tidak akan menyampaikannya,
setidaknya belum untuk saat ini.
Kata hanya rangkaian aksara – medium penerjemah apa yang diraba indra. Bagaimana
mungkin ia menjelaskan sesuatu tanpa rupa? Jelas mulut dan telinga bukan
ahlinya.
Sementara, rasa tak terdeskripsi abjad, bersemayam dalam
bisik misteri dari abad ke abad, berhembus bersama kabut yang pekat. Karenanya,
akan selalu ada jarak antara yang tersurat dan tersirat.
Bukankah itu egois bila harus mengucapkan apa yang ingin
disampaikan, sebab tak ada jaminan atas apa yang terungkapkan dapat dipahami.
Sementara lidah tak punya tulang untuk menarik kalimat kembali.
Memang diam tak akan merubah apapun, tak pula ada yang bisa
dimengerti, tapi angkat bicara tak berarti mendekatkan pada kesepahaman yang
sama.
Awan memang menyapa bumi
lewat hujan. Bulan pun tak mau ketinggalan utarakan kilaunya. Namun aku manusia
yang tak mengerti bahasa langit.
Lagipula, di dunia ini banyak
yang berjalan baik-baik saja tanpa ada yang tersampaikan. Begitulah yang
terkisah antara kerbau dan burung jalak, antara bunga dan lebah, antara kamu
dan ibumu.
Dan aku juga akan baik-baik
saja dengannya.
Kapuk, 27/11/15
gambar dari sini

Hmmm :)
ReplyDelete