Dungu
Di depan cermin aku berseringai malu, menatap wajah
lugu yang tadi begitu bingung menyembunyikan gugup, hanya karena bertemu denganmu.
“Hai, apa kabar?” tanyamu.
Suara gemetarku hanya mampu melepas kata ‘baik’. Lalu tercekat
sudah untuk tidak bertanya balik. Aku diam tanpa tahu harus bagaimana memasang mimik.
Sekian detik setalah itu lahirlah kebisuan di antara kita. Aku
(dan barangkali kamu) menghayati peran sebagai patung. Walaupun jemari kakiku
menggeliat mencari kesibukan.
Sementara dirimu di situ, menjiplak diamku dengan ekspresi
yang tak kumengerti. Hingga pada titik yang sudah kita duga, seperti biasa,
salah satu dari kita merapal salam perpisahan.
“ee… duluan ya.”
Lalu bersambut dengan kepura-puraan, “aku juga mau pergi”.
Tapi sore tadi kedua-duanya terucap bersamaan. Tentunya aku
jadi semakin salah tingkah. Kutolehkan pandanganku tanpa alasan, namun seketika
kembali padamu.
Sekali lagi mata kita bertatapan sebelum melambaikan tangan
dengan ragu. “daah..” dengan bersama pula. Segera saja kuberbalik
menyenembunyikan muka yang bak kepiting rebus.
Beginilah aku… selalu dungu membahasakan pereasaan yang
belum mampu kuempu.
Demikianlah aku… selalu bingung menata keinginan yang
menggedor pintu kalbu.
Tapi biarkanlah saja aku… yang bersabar menanti jawaban dari
waktu.
Barangkali menjadi dungu adalah pilihan terbaik yang bisa
kuambil. Sebab dengan bigini aku tak melukai siapapun. Tak pula aku terluka
karena siapapun. Jadi maafkan bila aku terus salah memahami tirus mimikmu.
Namun percayalah, saat aku mengeja jeda, setiap detik yang
terlewat adalah definisi pencarian rekah senyummu.
Kapuk, 13/9/15
gambar dari sini

This comment has been removed by the author.
ReplyDelete