Kokok Ayam



Kupikir kokok ayam yang membangunkanku tadi pagi.
Ternyata degup rindu mengetuk berisik pintu hati.

Kupikir sinar mentari yang menerobos masuk lewat jendela.
Nyatanya bayang kenangan memantul di tembok retina.

Perlu kau tahu, saat kubiarkan sepoi angin masuk ke dalam kamar, bukan bau embun sejuk yang kucium, melainkan jerat sesak kepergianmu.

Hari ini menggantikan yang kemarin. Esok menjemput di ujung senja. Entah berapa purnama sudah yang terlewat. Namun aku masih di sini.

Jarum jam mengeja detik – waktu yang kubunuh dengan perasaan hampa. Bumi berputar sebagaimana mestinya, tak acuhkan aku yang hampir menyerah pada kehidupan.

Dan beginilah aku, yang sampai hela ini, akan selalu dungu menafsirkan bagaimana hembus nafas bekerja.


Sebab aku yang tidak punya pilihan selain terus mencintaimu.



Ekoda, 3/8/15



Comments

Popular posts from this blog

4th USLS #7: Senyum Perpisahan

4th USLS #9: Kumandang Takbir

4th USLS #3: Lakukan Sekarang!