Kokok Ayam
Kupikir kokok ayam yang membangunkanku tadi pagi.
Ternyata degup rindu mengetuk berisik pintu hati.
Kupikir sinar mentari yang menerobos masuk lewat jendela.
Nyatanya bayang kenangan memantul di tembok retina.
Perlu kau tahu, saat kubiarkan sepoi angin masuk ke dalam
kamar, bukan bau embun sejuk yang kucium, melainkan jerat sesak kepergianmu.
Jarum jam mengeja detik – waktu yang kubunuh dengan perasaan
hampa. Bumi berputar sebagaimana mestinya, tak acuhkan aku yang hampir menyerah
pada kehidupan.
Dan beginilah aku, yang sampai hela ini, akan selalu dungu
menafsirkan bagaimana hembus nafas bekerja.
Sebab aku yang tidak punya pilihan selain terus mencintaimu.
Ekoda, 3/8/15

Comments
Post a Comment