Hai Kamu

Hai kau yang di sana, sampaikah salamku hari ini? Salam yang kukirim lewat keanggunan senja. Dari balik rona merahnya aku mengintip kabarmu sebelum gelap menyapa. Lalu kuminta bintang menjadi pengawasmu untuk sementara, hingga mentari menghangatkan rinduku yang lelap sejenak.
Masihkah kau terjaga? tak ada malam yang terlewat, kecuali telah kusebut namamu dalam panjatan doa. Nama yang belum kutahu sampai saat ini, tapi telah tertulis di atas lembaran takdir. Sampai takdir itu berbicara, semoga kau selalu lewati malam dengan penuh penjagaan-Nya.
Iya kamu, yang entah siapa dan di mana, Kamu yang sedang berjalan menyusuri lintasan hidup. Sementara aku menapaki jalan yang sama sekali berbeda. Tapi tahukah bahwa suatu saat kita akan bertemu di satu titik? Lalau kita lanjutkan perjalanan bersama, seperti sepasang rel kereta. Tak peduli bahkan bila harus tertatih papa.
Mungkin saat pertemuan itu datang, kau akan sadar bahwa tak harus hadir pangeran dalam kisah epos untuk membuatmu mengikat janji suci. Aku pun akan pasrah menggugurkan sosok jelita bidadari yang pernah kudamba. Tak sempurna, tapi kau lebih dari cukup. Mungkin aku juga bukan yang terbaik dalam urusan memantaskan diri. Tapi bukankah pertemuan itu ada untuk perbaikan bersama?
Seakan akan hidup ini lucu. Sekarang kita saling menerka-nerka pertemuan itu tanpa tahu ujungnya. Kita Membuat skenario pembicaraan yang membuat kita tersenyum dan tertawa. Kadang pula kita sedih dan kesal atas harapan yang tidak kita mengerti. Lalu boleh jadi kita terkejut dengan kenyataan di hari nanti, karena urusan hati bukanlah soal tebak menebak misteri.
Ahh entahlah, mungkin aku yang terlalu berlebihan - larut akan ketidakpastiaan, atau berharap pada kepastian yang entah kapan. Bagaimanapun itu, pastinya akan kusyukuri sebagai pemenuh sunnahnya. Aku hanya perlu yakin bahwa dengan kemantapan hati pada takdir-Nya, akan ada kuasa yang membimbingku menemukan titik pertemuan, menjalankan skenario yang tertulis di lembaran langit itu, serta menggantikan bintang untuk menjagamu, hingga mentari tak lagi menghangatkan.
Depok, 19 Juni 2014
gambar dari sini
Pyaaan :"
ReplyDeletekamu lagi kenapa pakbos?
btw topik kaya gini lagi tren banget yaa, apa gue juga harus bikin
dan btw lagi...maaf banget janjinya blm aku penuhi...
Gapapa ko fit.
ReplyDeleteSejenak keluar dr ranah akademis sepertinya menyenangkan.
Sok atuh bikin, pasti menggelegar. Hoho
Haha.. Selow, nunggu fitri ga sibuk aja
ckck direnungkan dulu deh mau bikinya gimana
ReplyDeleteiya maaf ya pakbos ..._.
mohon doa mau ujian >.<
Fitriii janji kamu ke aku juga belum dipenuhi...
ReplyDelete:))
loh kalian saling kenal?
ReplyDeletetemen setia ngeblog dari zaman SMP dan belum punya wordpress (masih Multiply) :D
ReplyDeletehmm... daun kelor semakin besar.
ReplyDeletewah bisa banget nih share-share ilmunya. saya masih newbie banget. baru belajar nulis pas kuliah ini.
wah belum ada yang bisa di-share... justru butuh sharing dari Pyan tentang nulis di ranah ilmiah
ReplyDeleteSimak juga artikel apakah PLTN di Indonesia bisa berdiri cusss
ReplyDeleteHotel murah Jogja ini walaupun menawarkan harga murah tetapi fasilitasnya sangat lengkap dan nyaman. Fasilitas yang tersedia berupa sarapan gratis, tempat tidur yang nyaman, AC, TV, kamar mandi pribadi yang dilengkapi shower dan Wi-Fi
ReplyDelete