KIPI 2014 #3: Research
Hari 3 (8 mar 2014)

Seperti biasa kami dijemput oleh panitia. Kali ini kami berangkat lebih pagi karena tempat penyelenggaran berada lebih jauh dari sebelumnya. Acara memang masih di selenggarakan ANU, tapi kini di Crawford School of Public Policy.
Agenda pagi itu adalah research workshop dengan tema Research: Finding and to be Found. Terdapat tiga pembicara yang sudah melalang buana di dunia penelittian. Ada Dr. Kiki Verico (staf ANU Indonesia Project), Dr. Ariene Utomo (research fellow, the ANU Crawford School of Public Policy), Fitrian Adriansyah (PhD Candidate, the ANU Crawford School of Public Policy). Mereka secara berurutan membahas seluk beluk penelitian mulai dari pembentukan kultur ide penelitian dalam tinjauan akademisi hingga tataran penerapan rekomendasi kebijakan atas hasil penelitian.

Dari 100 Asia top universities tidak ada sama sekali muncul perguruan tinggi dari Indonesia. Cukup miris bila kita terlalu membanggakan almamater dalam negeri. Padahal ini baru perhitungan asia, bukan dunia. Karena Indonesia masih Negara berkembang? Sepertinya itu tidak bisa dijadikan alasan. Sebab Malaysia masih menenggerkan universitasnya. Masih berbasis agraris? Ada tiga universitas dari Thailand di jajaran itu. Negara dengan populasi gemuk? India dan China masih masuk. Kondisi politik tidak stabil? Bahkan Israel yang terus perang pun menjadi bagian dari top class itu.
Satu hal yang menggelitik adalah universitas-universitas di Indonesia belum memiliki budaya penelitian yang baik. Publikasi karya ilmiah masih sangat minim. Syarat minimal 200 jurnal internasional untuk setiap tahunnya masih belum bisa terpenuhi. Dalam database SCOPUS, hanya ada 3 jurnal rumpun sains dan 1 jurnal rumpun sosial yang diakui. Hal ini semestinya menjadi keprihatinan para akademisi. Jurnal adalah kontribusi nyata untuk perkembangan dunia ilmu pengetahuan.
Belum lagi permasalahan dalam kelanjutan setelah penelitian. Dalam ranah kebijakan publik tidak semua hasil karya akademi bisa berujung pada implementasi kebijkan. Seringkali ada kendala birokrasi atau politik. Namun bukan berarti ilmuwan hanya bisa pasrah dalam permasalah mengawinkan dua ranah yang berbeda ini. Untuk itu perlu bagi akademisi untuk ikut blusukan keluar dari zona nyamannya. Pak fitrian mencontohkan dirinya yang turun dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang dijalankan pemerintah, lembaga donor, ataupun NGO lainnya.
Kami keluar dari ruang seminar untuk agenda coffee break. Saya yang sedari pagi belum makan akhirnya lega bisa mengisi perut dengan beberapa potong kue. Tak lama berbincang bincang dengan peserta lain, agenda presentasi dilanjutkan kembali. Kami dipisah berdasarkan stream masing-masing.
Setelah itu dilanjutkan presentasi beberapa kelompok yang belum. Di stream health, education, and public services ada 4 presentasi. Dua PhD candidate, satu master student, dan satu undergraduate student. Dengan konsentrasi ilmu dan kadar tingkat pendidikan masing-masing, mereka semua luar biasa. Saya banyak belajar dari mereka.
Setelah shalat dhuhur, semua dimobilisasi ke kedutaan besar RI. Akhirnya saya masuk ke wilayah keadulatan sendiri dan akhirnya saya menemukan bangunan khas yang saya kenali. Kami berforto di depan bangunan yang berpernak-pernik pahatan khas Bali. Termasuk juga ada patung-patung kisah pewayangan.


Kami masuk di salah satu bangunan yang terdapat aula yang lumayan luas di dalamnya. Sambutan dari PPI Australia dan KBRI membuka acara penutupan ini. Satu hal yang menarik saat Bang Faiz, ketua PPI Australia menyampaikan sambutan adalah ia menyalakan rekaman pidato bung karno di depan para mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Jangan ditanya, master public speeking Indonesia ini selalu bisa membius audiens saat berkoar-koar.
http://www.youtube.com/watch?v=bIyJa9Qn7-A
Dalam acara tersebut kami disuguhkan penampilan tari Bali. Saya cukup terhibur dengan cara penari tersebut bermain mata. Maksud saya dalam arti yang sesungguhnya. Di akhir acara panitia memberikan penghargaan. Salah satu peserta di stream saya mendapatkan gelar best speaker. Dia adalah Josephanie, seorang kandidat PhD dari Charles Darwin University.

Dari KBRI kami beranjak mengunjungi Parliament House. Gedung ini adalah maskotnya Canderra. Belum afdol rasanya ke Canberra tanpa mengunjungi tempat yang menjadi pusat perpolitikan di Australia ini. Kebetulan, malam itu adalah malam terakhir Enlighten Festival. Gedung-gedung penting di Canberra disorot lampu-lampu yang apik, termasuk juga gedung Parliament House ini.

Seperti biasa kami dijemput oleh panitia. Kali ini kami berangkat lebih pagi karena tempat penyelenggaran berada lebih jauh dari sebelumnya. Acara memang masih di selenggarakan ANU, tapi kini di Crawford School of Public Policy.
Agenda pagi itu adalah research workshop dengan tema Research: Finding and to be Found. Terdapat tiga pembicara yang sudah melalang buana di dunia penelittian. Ada Dr. Kiki Verico (staf ANU Indonesia Project), Dr. Ariene Utomo (research fellow, the ANU Crawford School of Public Policy), Fitrian Adriansyah (PhD Candidate, the ANU Crawford School of Public Policy). Mereka secara berurutan membahas seluk beluk penelitian mulai dari pembentukan kultur ide penelitian dalam tinjauan akademisi hingga tataran penerapan rekomendasi kebijakan atas hasil penelitian.

Dari 100 Asia top universities tidak ada sama sekali muncul perguruan tinggi dari Indonesia. Cukup miris bila kita terlalu membanggakan almamater dalam negeri. Padahal ini baru perhitungan asia, bukan dunia. Karena Indonesia masih Negara berkembang? Sepertinya itu tidak bisa dijadikan alasan. Sebab Malaysia masih menenggerkan universitasnya. Masih berbasis agraris? Ada tiga universitas dari Thailand di jajaran itu. Negara dengan populasi gemuk? India dan China masih masuk. Kondisi politik tidak stabil? Bahkan Israel yang terus perang pun menjadi bagian dari top class itu.
Satu hal yang menggelitik adalah universitas-universitas di Indonesia belum memiliki budaya penelitian yang baik. Publikasi karya ilmiah masih sangat minim. Syarat minimal 200 jurnal internasional untuk setiap tahunnya masih belum bisa terpenuhi. Dalam database SCOPUS, hanya ada 3 jurnal rumpun sains dan 1 jurnal rumpun sosial yang diakui. Hal ini semestinya menjadi keprihatinan para akademisi. Jurnal adalah kontribusi nyata untuk perkembangan dunia ilmu pengetahuan.
Belum lagi permasalahan dalam kelanjutan setelah penelitian. Dalam ranah kebijakan publik tidak semua hasil karya akademi bisa berujung pada implementasi kebijkan. Seringkali ada kendala birokrasi atau politik. Namun bukan berarti ilmuwan hanya bisa pasrah dalam permasalah mengawinkan dua ranah yang berbeda ini. Untuk itu perlu bagi akademisi untuk ikut blusukan keluar dari zona nyamannya. Pak fitrian mencontohkan dirinya yang turun dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang dijalankan pemerintah, lembaga donor, ataupun NGO lainnya.
Kami keluar dari ruang seminar untuk agenda coffee break. Saya yang sedari pagi belum makan akhirnya lega bisa mengisi perut dengan beberapa potong kue. Tak lama berbincang bincang dengan peserta lain, agenda presentasi dilanjutkan kembali. Kami dipisah berdasarkan stream masing-masing.
Setelah itu dilanjutkan presentasi beberapa kelompok yang belum. Di stream health, education, and public services ada 4 presentasi. Dua PhD candidate, satu master student, dan satu undergraduate student. Dengan konsentrasi ilmu dan kadar tingkat pendidikan masing-masing, mereka semua luar biasa. Saya banyak belajar dari mereka.
Setelah shalat dhuhur, semua dimobilisasi ke kedutaan besar RI. Akhirnya saya masuk ke wilayah keadulatan sendiri dan akhirnya saya menemukan bangunan khas yang saya kenali. Kami berforto di depan bangunan yang berpernak-pernik pahatan khas Bali. Termasuk juga ada patung-patung kisah pewayangan.


Kami masuk di salah satu bangunan yang terdapat aula yang lumayan luas di dalamnya. Sambutan dari PPI Australia dan KBRI membuka acara penutupan ini. Satu hal yang menarik saat Bang Faiz, ketua PPI Australia menyampaikan sambutan adalah ia menyalakan rekaman pidato bung karno di depan para mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Jangan ditanya, master public speeking Indonesia ini selalu bisa membius audiens saat berkoar-koar.
http://www.youtube.com/watch?v=bIyJa9Qn7-A
Dalam acara tersebut kami disuguhkan penampilan tari Bali. Saya cukup terhibur dengan cara penari tersebut bermain mata. Maksud saya dalam arti yang sesungguhnya. Di akhir acara panitia memberikan penghargaan. Salah satu peserta di stream saya mendapatkan gelar best speaker. Dia adalah Josephanie, seorang kandidat PhD dari Charles Darwin University.

Dari KBRI kami beranjak mengunjungi Parliament House. Gedung ini adalah maskotnya Canderra. Belum afdol rasanya ke Canberra tanpa mengunjungi tempat yang menjadi pusat perpolitikan di Australia ini. Kebetulan, malam itu adalah malam terakhir Enlighten Festival. Gedung-gedung penting di Canberra disorot lampu-lampu yang apik, termasuk juga gedung Parliament House ini.
Comments
Post a Comment