4th USLS #10: Sampai Jumpa... Paalam na
9 agustus 2013
Saya bangun perlahan dari tidur. Di luar masih gelap, tapi semua lampu dalam kontrakan telah menyala. Segera saya mengambil wudhu dan shalat subuh. Bang Reja telah lebih dulu bangun, bahkan hidangan sarapan sudah ia siapkan. Nasi goreng khas rasa mahasiswa. Pokoke maknyus
Belum tampak seluruh badan mentari, kami sudah berangkat ke KBRI. Karena LRT belum beroprasi kami menggunakan jeepney lalu diteruskan dengan bus. KBRI masih sepi. Hanya beberapa orang yang sedang menyiapkan lokasi shalat Ied di Lapangan parkir belakang. Kami pun membantu menggelar alas dan sajadah. Beberapa saat kemudian orang-orang ramai berdatangan. Pekik takbir pun semakin ramai. Setidaknya saat itu saya merasa berada di tempat yang sama sekali tak asing.

Tepat pukul 7 shalat ied di mulai dengan 7 takbir. Saya tak tahu siapa, tapi yang menjadi imam adalah orang Indonesia. Sementara yang menjadi khatib adalah seorang muslim keturunan Afrika. Ia menggunakan campuran bahasa inggris dan arab dalam khutbahnya. Pelajaran bahasa arab yang saya ambil ketika madrasah sedikit memudahkan saya dalam memahami isi khutbah itu. Ia memberi kami makna yang baik dalam ucapan sampai Jumpa Ramadhan.
“Ramadhan telah berakhir, tapi bukan berarti kita meninggalkan amalan-amalan yang telah kita lakukan selama Ramadhan. Di sinilah saatnya kita membuktikan diri bahwa kita memang pantas untuk bertemu Ramadhan tahun depan.”
Setelah itu seluruh jamaah masuk ke dalam gedung nusantara. Kami saling bersalam-salaman, menebar senyum kemenangan. Di situ saya baru menyadari bahwa bukan hanya muslim Indonesia yang menjadi jamaah. Beberapa warga negara lain ikut serta menjalankan shalat Ied di sini. India, Brunei Darussalam, Banglades, bahkan muslim Filipina juga ikut.

Sekepas dari KBRI, saya beserta rombongan PPI yang dipimpin bang Reja menuju ke rumah salah seorang temannya. Dia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang keluarganya setiap tahun selalu membuka acara halal bi halal. Di sana kami dihidangi masakan khas Indonesia. Alhamdulillah, setelah sekian hari bersabar dengan keterbatasan makanan, akhirnya saya bisa merasakan lontong sayur, rendang, telur balado, dan keripik kulit.
Tak berhenti sampai di situ. Kita langsung berangkat memenuhi undangan open house dari atase pertahanan Indonesia di Filipina. Seluruh keluarganya tinggal di Makati, termasuk ankanya yang berkuliah di De La Salle Univerity, Manila. Iya benar, di sini juga makan-makan. Yang membedakan adalah di sini ada menu tambahan: gado-gado.

Saat siang menjelang kami kembali ke KBRI untuk menunaikan shalat Jumat. Baru di hari kesepuluh inilah saya melaksanakan shalat Jumat. Sebelumnya saya tidak bisa menemukan masjid di Pedro Gil.
Selesai? Samasekali belum. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah duta besar Indonesia. Dia selalu mengundang PPI dalam acara open house tahunannya. Seperti yang saya duga, makan-makan lagi. Tapi karena saya sudah terlalu kenyang saya putuskan hanya menikmati dessert kue coklat. Padahal sup ayam asam terlihat begitu menggiurkan. Di sana kebetulan kami bertemu dengan rombongan paduan suara Univesitas Indonesia yang akan berlomba di Filipina. Sebelum pamit, kami sempatkan menikmati beberapa lagu yang disuguhkan paduan suara bernama Paragita ini.

Setelah itu kami berpisah. Beberapa ada yang mengantar rombongan paragita untuk latihan, sebagian lagi pulang ke rumah masing-masing. Saya, tentu saja kembali ke kontrakan bang Reja. Saya harus bersiap-siap untuk balik ke tanah air tercinta. Kepulangan ini telah saya nanti-nantikan, yang jjuga berarti saya harus menyudahi petualangan di negeri The Azkals ini. Seiring dengan berakhirnya bulan Ramadhan, berakhir pula perjalanan 10 hari saya di Filipina. Atas perpisahan ini, dengan berat saya mengucapkan,
“Sampai jumpa Ramdhan, Paalam na Philipinas!”
Saya bangun perlahan dari tidur. Di luar masih gelap, tapi semua lampu dalam kontrakan telah menyala. Segera saya mengambil wudhu dan shalat subuh. Bang Reja telah lebih dulu bangun, bahkan hidangan sarapan sudah ia siapkan. Nasi goreng khas rasa mahasiswa. Pokoke maknyus
Belum tampak seluruh badan mentari, kami sudah berangkat ke KBRI. Karena LRT belum beroprasi kami menggunakan jeepney lalu diteruskan dengan bus. KBRI masih sepi. Hanya beberapa orang yang sedang menyiapkan lokasi shalat Ied di Lapangan parkir belakang. Kami pun membantu menggelar alas dan sajadah. Beberapa saat kemudian orang-orang ramai berdatangan. Pekik takbir pun semakin ramai. Setidaknya saat itu saya merasa berada di tempat yang sama sekali tak asing.

Tepat pukul 7 shalat ied di mulai dengan 7 takbir. Saya tak tahu siapa, tapi yang menjadi imam adalah orang Indonesia. Sementara yang menjadi khatib adalah seorang muslim keturunan Afrika. Ia menggunakan campuran bahasa inggris dan arab dalam khutbahnya. Pelajaran bahasa arab yang saya ambil ketika madrasah sedikit memudahkan saya dalam memahami isi khutbah itu. Ia memberi kami makna yang baik dalam ucapan sampai Jumpa Ramadhan.
“Ramadhan telah berakhir, tapi bukan berarti kita meninggalkan amalan-amalan yang telah kita lakukan selama Ramadhan. Di sinilah saatnya kita membuktikan diri bahwa kita memang pantas untuk bertemu Ramadhan tahun depan.”
Setelah itu seluruh jamaah masuk ke dalam gedung nusantara. Kami saling bersalam-salaman, menebar senyum kemenangan. Di situ saya baru menyadari bahwa bukan hanya muslim Indonesia yang menjadi jamaah. Beberapa warga negara lain ikut serta menjalankan shalat Ied di sini. India, Brunei Darussalam, Banglades, bahkan muslim Filipina juga ikut.

Sekepas dari KBRI, saya beserta rombongan PPI yang dipimpin bang Reja menuju ke rumah salah seorang temannya. Dia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang keluarganya setiap tahun selalu membuka acara halal bi halal. Di sana kami dihidangi masakan khas Indonesia. Alhamdulillah, setelah sekian hari bersabar dengan keterbatasan makanan, akhirnya saya bisa merasakan lontong sayur, rendang, telur balado, dan keripik kulit.
Tak berhenti sampai di situ. Kita langsung berangkat memenuhi undangan open house dari atase pertahanan Indonesia di Filipina. Seluruh keluarganya tinggal di Makati, termasuk ankanya yang berkuliah di De La Salle Univerity, Manila. Iya benar, di sini juga makan-makan. Yang membedakan adalah di sini ada menu tambahan: gado-gado.

Saat siang menjelang kami kembali ke KBRI untuk menunaikan shalat Jumat. Baru di hari kesepuluh inilah saya melaksanakan shalat Jumat. Sebelumnya saya tidak bisa menemukan masjid di Pedro Gil.
Selesai? Samasekali belum. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah duta besar Indonesia. Dia selalu mengundang PPI dalam acara open house tahunannya. Seperti yang saya duga, makan-makan lagi. Tapi karena saya sudah terlalu kenyang saya putuskan hanya menikmati dessert kue coklat. Padahal sup ayam asam terlihat begitu menggiurkan. Di sana kebetulan kami bertemu dengan rombongan paduan suara Univesitas Indonesia yang akan berlomba di Filipina. Sebelum pamit, kami sempatkan menikmati beberapa lagu yang disuguhkan paduan suara bernama Paragita ini.

Setelah itu kami berpisah. Beberapa ada yang mengantar rombongan paragita untuk latihan, sebagian lagi pulang ke rumah masing-masing. Saya, tentu saja kembali ke kontrakan bang Reja. Saya harus bersiap-siap untuk balik ke tanah air tercinta. Kepulangan ini telah saya nanti-nantikan, yang jjuga berarti saya harus menyudahi petualangan di negeri The Azkals ini. Seiring dengan berakhirnya bulan Ramadhan, berakhir pula perjalanan 10 hari saya di Filipina. Atas perpisahan ini, dengan berat saya mengucapkan,
“Sampai jumpa Ramdhan, Paalam na Philipinas!”
Comments
Post a Comment